Di tengah hiruk-pikuk forum ekonomi di Jakarta pekan lalu, ada satu pesan yang disampaikan dengan tegas: mengejar ekonomi hijau bukanlah beban. Bukan sekadar kewajiban untuk memenuhi janji iklim global. Justru sebaliknya.
Menurut Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan dan Kerjasama Multilateral, Mari Elka Pangestu, inilah strategi pertumbuhan yang krusial. Bahkan untuk mencapai target ambisius, seperti pertumbuhan ekonomi delapan persen sekalipun. Hal ini ia sampaikan dalam Prasasti Economic Forum 2026, yang mengusung tema "Navigating Indonesia’s Next Chapter".
"Ini bukan soal komitmen terhadap perubahan iklim semata, tetapi ini tentang pertumbuhan [ekonomi]," ujarnya.
Pendekatan green growth, tegas Mari, harus dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari agenda pembangunan. Ia punya alasan kuat. Aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim justru membuka pintu lebar-lebar bagi investasi baru. Menciptakan lapangan kerja. Dan yang tak kalah penting, menjaga daya saing nasional di panggung dunia.
Tanpa langkah serius itu, Indonesia berisiko tertinggal. Pertumbuhan bisa mandek di masa depan, terhantam dampak perubahan iklim yang tak tertangani.
"Kalau kita tidak melakukan itu, kita tidak akan berdaya saing," katanya.
Memang, realitasnya sudah berubah. Isu keberlanjutan kini jadi penentu utama dalam rantai pasok global. Investor dan pelaku usaha internasional makin ketat menuntut standar lingkungan, dari penggunaan energi bersih hingga pengelolaan limbah. Kalau tak memenuhi, akses ke pasar global bisa terancam menyempit.
Dari semua sektor, energi memegang peran kunci. Transisi energi, menurut Mari, bukan hal yang menakutkan. Justru ia membuka peluang investasi yang segar dan melahirkan industri-industri baru di bidang terbarukan. Di sisi lain, industri nasional harus mulai serius merencanakan pengelolaan karbon. Tujuannya, menghindari risiko kebijakan global seperti CBAM yang bisa membebani ekspor kita jika emisi masih tinggi.
"Menangani mitigasi dan adaptasi bukan cost. Itu adalah investment yang bisa menghasilkan growth," tegas Mari.
Prinsipnya sederhana: penambahan kebutuhan energi sebaiknya dipenuhi dari sumber terbarukan. Sementara sektor berbasis fosil yang ada, perlu dikelola dengan lebih efisien dan dibantu teknologi untuk menekan emisi.
Namun begitu, jalan menuju ekonomi hijau tak semulus yang dibayangkan. Percepatannya bukan cuma soal teknologi atau dana melimpah. Kesiapan sumber daya manusia jadi tantangan besar berikutnya. Faktanya, sebagian besar tenaga kerja kita dinilai belum siap mendukung akselerasi sektor energi terbarukan. Karena itu, program reskilling untuk menciptakan green jobs jadi kebutuhan yang mendesak.
Selain energi, potensi besar juga mengendap di sektor pertanian, kehutanan, dan kelautan. Baik untuk mengurangi emisi maupun menyerap karbon. Mari menyoroti perlunya pengembangan pasar karbon domestik yang kredibel dan diakui internasional. Tak hanya berbasis hutan, tapi juga menggali potensi karbon biru dari wilayah laut kita.
Meski potensinya menjanjikan, ada satu tantangan utama yang menurut Mari masih menghambat: koordinasi. Selama ini, berbagai sektor kerap berjalan sendiri-sendiri. Tak ada peta jalan yang benar-benar terintegrasi. Ia menekankan, strategi green growth nasional yang jelas mutlak diperlukan. Mulai dari penentuan sektor prioritas, hingga sinkronisasi kebijakan di tingkat makro dan sektoral.
"Perlu kebijakan yang konsisten. Jadi tanpa itu agak susah kita merealisasi our green golden vision," pungkasnya.
Visinya emas, tapi eksekusinya harus konkrit. Itulah intinya.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020