"Sebagai hub itu bisa diisi oleh carbon capture dari beberapa negara potensial yang ada di sebelah kanan yaitu Singapura dan Malaysia serta Jepang dan Korea," papar Yudhi.
Untuk tahap awal, sudah ada kerja sama konkret yang dirintis. Pertamina menggandeng Krakatau Steel, yang berpotensi mengalirkan CO₂ dari pabrik bajanya di Jawa Barat ke Asri Basin. Ini bisa jadi proyek percontohan yang penting.
"Indonesia sendiri nanti bisa dari industri Indonesia yang lakukan carbon capture, yaitu yang saat ini sudah bekerja sama itu dari Krakatau Steel," kata Yudhi.
Namun begitu, Asri Basin bukanlah satu-satunya harapan. Pertamina ternyata menyiapkan beberapa cadangan lokasi lain. Beberapa masih dalam tahap studi, seperti di Jembaran Tiung Biru, East Java Basin, dan Central Sumatera. Sementara itu, kerja sama dengan sejumlah mitra untuk wilayah seperti Iskal dan Sulawesi Basin masih dalam tahap awal.
Rencana besar ini jelas bukan pekerjaan mudah. Tapi, langkah-langkah persiapannya sudah mulai terlihat, perlahan tapi pasti.
Artikel Terkait
Persiapan Mudik Lebaran 2026: Ban Tepat Jadi Kunci Hemat Daya Mobil Listrik
MR.D.I.Y Indonesia (MDIY) Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun dan Usul Dividen 40%
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.893, Beban Bunga Utang Membengkak Capai Rp99,8 Triliun
IHSG Turun 0,37% ke 7.362,12 Didominasi Tekanan Jual