“Dengan dukungan penuh Pemerintah dan kerja sama erat dengan BIJB, kami yakin Kertajati akan berkembang menjadi pusat gravitasi baru industri aviasi Indonesia. Dampak ekonominya diharapkan bisa dirasakan luas, baik secara nasional maupun regional,” jelas Andi.
Di sisi lain, Plt Direktur BIJB, Ronald H. Sinaga, melihat momentum ini secara strategis. Baginya, ini adalah titik awal pengembangan Kertajati sebagai aerocity dan simpul pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.
“Kehadiran GMF sebagai mitra strategis membuat kami semakin optimistis. Kertajati akan bertransformasi menjadi pusat aktivitas penerbangan terintegrasi, didukung oleh kehadiran para stakeholders kelas dunia,” kata Ronald.
Visi jangka panjangnya memang cukup ambisius. Kawasan ini nantinya tak cuma berisi bengkel pesawat. Ada rencana untuk fasilitas manufaktur, pusat logistik, tempat pelatihan, dan area pendukung lain. Tapi semua itu baru akan berkembang belakangan, setelah infrastruktur dasar dan hanggar utama berjalan dengan baik.
Harapannya jelas. Kawasan ini diinginkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat, mampu mendorong UMKM lokal dan membuka ribuan lapangan kerja. Mereka mengusung konsep pengembangan industri yang hijau, cerdas, dan berkelanjutan. Artinya, efisiensi energi, pengelolaan limbah yang ketat, serta digitalisasi operasi menjadi prioritas.
Pada akhirnya, kehadiran Kertajati Aerospace Park diharapkan jadi katrol utama perekonomian. Ia tak hanya memperkuat posisi Bandara Kertajati sebagai simpul logistik, tetapi juga diharapkan bisa menjadi lompatan strategis menuju kemandirian industri aviasi nasional. Sebuah awal yang ditunggu-tunggu.
Artikel Terkait
Timur Tengah Membara, Ekonomi Indonesia Terancam Guncang
WIKA Beton Pacu Pembangunan MRT Jakarta, Realisasi Fase 2A Lampaui Target
Waspada Banjir, PLN Imbau Masyarakat Matikan Listrik Saat Air Mulai Masuk Rumah
ANJT Tutup Tiga Anak Perusahaan, Fokus Kembali ke Bisnis Inti Sawit