Angkanya cukup mencengangkan. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI melaporkan, ada sekitar 1,87 juta penduduk Indonesia yang memilih menyerah. Mereka berhenti mencari kerja, masuk dalam kategori yang disebut discouraged workers.
Laporan yang disusun peneliti Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam setahun saja, dari Februari 2024 ke Februari 2025, jumlah mereka melonjak 11 persen. Ini bukan sekadar angka statis, melainkan pertanda ada sesuatu yang tak beres.
"Kenaikan jumlah penduduk yang putus asa mencari kerja dari sekitar 1,68 juta menjadi 1,87 juta orang itu memberi sinyal yang tidak bisa diabaikan," ujar Muhammad Hanri dalam laporannya, Sabtu (6/12).
Memang, secara proporsi terhadap total angkatan kerja, kelompok ini terbilang kecil. Namun begitu, keberadaan mereka justru mengungkap masalah struktural yang sering luput dari indikator konvensional semacam tingkat pengangguran. Mereka yang menyerah ini sebenarnya masih ingin bekerja dan tersedia, tapi hilang harapan.
Menurut Hanri, alasan di balik keputusasaan ini beragam. Mulai dari keyakinan bahwa lowongan kerja memang tidak ada, pengalaman yang dianggap kurang, keterampilan yang tidak cocok, sampai persepsi usia yang jadi hambatan di mata perusahaan.
"Alasan-alasan ini memberi sinyal bahwa sebagian penduduk yang ingin bekerja justru terhalang oleh kombinasi faktor psikologis, institusional, dan struktural," jelasnya.
Lalu, seperti apa profil mereka? Separuh lebih tepatnya 50,07 persen berlatar pendidikan SD atau bahkan tidak tamat SD. Lulusan SMP dan SMA menyusul di angka 20,21 dan 17,29 persen. Yang menarik, ada pula kelompok berpendidikan S2 yang menyumbang 8,09 persen.
Dari sisi gender, laki-laki mendominasi dengan porsi dua pertiga total. Fakta ini punya makna tersendiri. Dalam banyak kultur, laki-laki diharapkan menjadi tulang punggung keluarga. Keputusasaan yang lebih banyak melekat pada kelompok ini menunjukkan betapa beratnya tekanan yang mereka tanggung.
Pola serupa ternyata tak cuma terjadi di Indonesia. Menurut catatan International Labour Organization (ILO), di banyak negara berpendapatan menengah, discouraged workers menjadi komponen kunci dari pemanfaatan tenaga kerja yang tidak optimal.
Lonjakan 11 persen dalam setahun ini konsisten dengan temuan lembaga-lembaga pembangunan lain. Laporan Bank Dunia, misalnya, menyimpulkan bahwa dua pertiga pekerjaan di Indonesia masih berkategori produktivitas rendah. Mayoritas tenaga kerja kita pun hanya berpendidikan menengah pertama atau di bawahnya.
"Jika dibandingkan dengan beberapa negara sejenis di kawasan yang basis manufaktur dan jasanya sudah modern, Indonesia tertinggal dalam menciptakan lapangan kerja formal yang produktif," lanjut Hanri.
Akibatnya, persaingan di pasar kerja jadi sangat ketat, terutama bagi mereka yang berpendidikan rendah, minim pengalaman, atau punya keterampilan yang sudah ketinggalan zaman. Di sisi lain, sistem informasi pasar kerja kita dinilai masih lemah. Pencari kerja seringkali kebingungan, tidak tahu jelas lowongan apa yang tersedia dan skill apa yang dibutuhkan.
Jika dibiarkan berlarut, keadaan ini berisiko memperlebar kesenjangan. Akan terbentuk jurang antara mereka yang bisa menangkap peluang ekonomi baru dan mereka yang sudah menganggap pasar kerja sebagai tempat yang tidak ramah.
"Discouragement yang tumbuh pelan-pelan ini berisiko besar, baik di negara berkembang seperti kita maupun di negara maju sekalipun," tambahnya.
Intinya, angka 1,87 juta itu lebih dari sekadar statistik. Itu adalah potret nyata dari hilangnya harapan, dan itu masalah kita bersama.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020