Suasana di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (10/3/2026) itu cukup ramai. Di tengah kerumunan, terlihat beberapa wajah lelah namun lega. Mereka adalah mahasiswa Indonesia yang baru saja dievakuasi dari Iran, menyelamatkan diri dari situasi perang yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Bagi mereka, yang namanya kuliah kini sudah jadi kenangan. Aktivitas akademik benar-benar terhenti, dan itu terjadi sejak awal Ramadan lalu. Semua berubah begitu cepat.
“Terputus, proses belajarnya. Soalnya semenjak perang pecah tanggal 2 Ramadan, semuanya berantakan,” ujar Hukam, 25 tahun, saat ditemui di bandara.
Dia adalah mahasiswa tahun pertama jurusan Sejarah Peradaban Islam di Ahlul Bayt International University, Teheran. Pertanyaan tentang kapan kampus akan dibuka lagi hanya dijawab dengan gelengan kepala. Situasi keamanan yang masih berubah-ubah membuat segalanya tidak pasti. “Kalau misal perangnya berlanjut, saya nggak tahu bakal lanjut atau benar-benar berhenti di sini,” katanya.
Artikel Terkait
Ketua KAUMY DK Jakarta Serukan Penghentian Konflik dan Perdamaian di Timur Tengah
KIP Perintahkan UGM Buka Dokumen Akademik Jokowi, dengan Penyensoran
Atletico Madrid Hajar Tottenham 5-2, Bayern Muenchen Gencet Atalanta 1-6 di Liga Champions
Anggota DPR Sebut OTT KPK yang Jerat Bupati dan Wakil Bupati sebagai Bencana