Dan upaya mereka tak hanya berhenti di rumah sakit. Pada hari yang sama, Tamiang Sport Center yang dijadikan posko pengungsian besar juga akhirnya mendapat aliran listrik. Dengan adanya penerangan, proses evakuasi dan pendataan warga jadi lebih lancar, distribusi logistik pun tak lagi terkendala gelap.
Masalah lain yang diatasi adalah pasokan air bersih. Untuk itu, PLN mengoperasikan genset 33.000 watt dari Binjai guna menyalakan PDAM setempat. Alhasil, kebutuhan air bersih masyarakat berangsur normal sejak Kamis. Mereka juga masih mengupayakan genset berdaya lebih besar, 100.000 watt, yang saat ini sedang dikirim dari Banda Aceh menggunakan kapal POLRI.
Di lapangan, tantangan masih banyak. Jalan putus, banyak daerah terisolasi. Tapi, menurut Eddi Saputra, General Manager PLN UIW Aceh, semangat tim tak boleh redup.
Pemulihan jaringan listrik permanen memang masih berlangsung. Namun, dengan dukungan suplai darurat dan kerja keras tanpa lelah, setidaknya masyarakat Aceh Tamiang kini punya cahaya untuk melewati masa-masa terberat ini. Sebuah cahaya yang bukan sekadar penerang, tapi juga penanda bahwa kehidupan dan pelayanan publik harus terus bergerak.
Artikel Terkait
Harga CPO Melonjak 8% dalam Seminggu, Terbesar Sejak November 2024
Lonjakan Harga Minyak Global Gagal Dongkrak Sektor Energi di Tengah Amukan IHSG
Menkeu Tegaskan THR Karyawan Swasta Tetap Kena Pajak, Sarankan Protes ke Perusahaan
Emas Rebound di Akhir Pekan, Tapi Catat Penurunan Mingguan Pertama dalam Lima Pekan