Peluang kolaborasi antara Asian Development Bank (ADB) dan Grup Bank Dunia untuk proyek-proyek di Indonesia mulai terbuka. Pembahasannya memang masih sangat awal, belum mengerucut ke sektor tertentu. Tapi, setidaknya, pintunya sudah dibuka lebar.
Emma Veve, Director General for Pacific ADB, mengungkapkan bahwa persiapan kerja sama lintas lembaga ini dilakukan bertahap. Indonesia termasuk di dalamnya, bersama negara anggota lainnya.
“Ini masih dalam tahap pengembangan. Kami sedang berdiskusi dengan semua pemerintah kami, termasuk Bank Dunia, untuk mengidentifikasi proyek-proyek ini,” ujar Emma dalam konferensi pers, Kamis (4/12).
“Namun saat ini, kami tidak ingin menyebutkan negara atau proyek tertentu. Sebagai informasi, ada sejumlah proyek yang akan masuk ke sistem kami masing-masing dalam waktu dekat.”
Detailnya memang belum bisa dibagi. Semuanya masih disusun. Namun, inti dari kerangka kerja yang disebut "full mutual reliance framework" (FMRF) ini cukup jelas: memangkas birokrasi. Tujuannya agar proyek bisa diproses lebih cepat dan efisien dengan satu set aturan yang sama.
Di sisi lain, fleksibilitas menjadi kunci. Kostradia Muklisa, Assistant General Counsel ADB, menegaskan bahwa FMRF tidak terikat pada sektor tertentu, besaran proyek, atau jenis pinjamannya. Ruangnya terbuka, termasuk bagi Indonesia yang berminat memanfaatkannya.
“Kerangka ini sangat terbuka dan luas,” katanya.
“Misalnya, kami dapat menggunakan FMRF untuk pinjaman berbasis kebijakan, pinjaman berbasis hasil, dan pinjaman investasi. Ada semacam saling ketergantungan dan keuntungan di dalamnya.”
Artikel Terkait
IHSG Menguat 1,76%, Saham KOKA dan RODA Pacu Kenaikan
IHSG Bangkit 1,76% ke 7.710, Meski Nilai Transaksi Menyusut Tajam
BUMI Pertahankan Produksi Batu Bara 73-75 Juta Ton pada 2025
MNC Tourism Pacu Pengembangan KEK Lido City Seluas 3.000 Hektare