Harga minyak dunia melonjak lebih dari satu persen pada perdagangan Senin. Kenaikan ini tak lepas dari sejumlah faktor yang membuat pasar tegang: serangan drone Ukraina, keputusan AS menutup wilayah udara Venezuela, dan langkah OPEC yang memilih mempertahankan level produksi hingga kuartal pertama 2026.
Di bursa, Brent crude ditutup menguat 1.27% ke level USD63,17 per barel. Sementara minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), naik 1.32% menjadi USD59,32 per barel. Kenaikan ini menghentikan sementara tren pelemahan yang sudah berlangsung beberapa waktu.
“Pasar sedang sangat waspada karena potensi hilangnya pasokan minyak Rusia,” kata John Kilduff, Partner di Again Capital LLC.
“Pelaku pasar memantau ketat apakah kesepakatan Rusia-Ukraina ini akan berjalan mulus atau justru kelur jalur,” tambahnya.
Menurut Kilduff, kekhawatiran soal konflik AS-Venezuela sebenarnya tak terlalu signifikan dibanding fokus utama di Ukraina. “Saya rasa tidak banyak yang khawatir soal hilangnya pasokan dari Venezuela,” ujarnya.
Di sisi lain, Phil Flynn dari Price Futures Group melihat ada kombinasi pemicu. Ia menilai, serangan Ukraina ditambah komitmen produksi OPEC-lah yang mendorong kenaikan harga di sesi pagi New York.
“Serangan drone Ukraina terhadap armada bayangan Rusia serta keputusan OPEC mempertahankan produksi membuat pasar lebih optimistis,” tulis Flynn dalam catatannya.
Ia melanjutkan, “Ini terjadi ketika permintaan minyak global terus meningkat meski sentimen negatif soal permintaan masih terdengar.”
Artikel Terkait
Titik Terang di Ladang Tua: PHR Temukan Cadangan Baru di Blok Rokan
ICP Anjlok ke USD 61,10, Pasar Minyak Dunia Dibayangi Super Glut
BKPM Prediksi Dominasi PMDN Makin Kuat, Didorong Geliat Danantara
Dana Rp 101 Triliun Danantara untuk BUMN Tekstil Baru, Bisakah Bangkitkan Pasar yang Lesu?