Emas dan Perak Melonjak, Dolar Terpuruk di Tengah Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga AS

- Selasa, 02 Desember 2025 | 07:40 WIB
Emas dan Perak Melonjak, Dolar Terpuruk di Tengah Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga AS

Harga emas dunia kembali merangkak naik ke level tertingginya dalam enam pekan terakhir, tepatnya pada Senin (1/12/2025). Kenaikan ini tak lepas dari sentimen pasar yang kian yakin bakal ada pemangkasan suku bunga di AS, ditambah dengan pelemahan nilai dolar yang cukup signifikan.

Tak cuma emas, perak pun ikut meroket. Bahkan, logam putih ini sempat mencatatkan rekor harga baru, lho. Ini terjadi jelang rilis beberapa data ekonomi kunci dari Amerika Serikat yang dinanti-nanti pelaku pasar.

Secara rinci, emas spot (XAU/USD) menguat 0,39 persen ke posisi USD 4.232,29 per troy ons. Sementara itu, perak benar-benar mencuri perhatian dengan lonjakan fantastis 3,8 persen ke USD 58,57 per troy ons. Angka itu dicapai setelah sebelumnya sempat menyentuh puncak tertinggi sepanjang masa di USD 58,83. Kalau dilihat dari awal tahun, kenaikan perak sudah tembus lebih dari 100 persen sungguh luar biasa.

Di sisi lain, dolar AS justru terpuruk ke level terendah dalam dua pekan. Kondisi ini secara otomatis membuat emas terasa lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.

David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, memberikan pandangannya.

“Ekspektasi pemangkasan suku bunga yang berlanjut, ditambah tekanan inflasi yang masih berada di atas target The Fed, tetap menjadi penopang utama bagi emas dan perak,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Nah, ekspektasi pasar itu kini kian kuat. Peluang suku bunga dipotong pada Desember diperkirakan melonjak jadi 87 persen. Angka itu muncul setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, diperkuat lagi dengan pernyataan bernada ‘dovish’ atau cenderung longgar dari sejumlah pejabat The Fed. Nama-nama seperti Gubernur Christopher Waller dan Presiden The Fed New York John Williams disebut-sebut ikut memicu sentimen ini.

Logikanya sederhana: suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas.

Meger juga menambahkan satu faktor pendorong lain. Menurutnya, ekspektasi bahwa ketua The Fed berikutnya akan bersikap lebih ‘dovish’ ketimbang pendahulunya turut menyokong harga kedua logam mulia ini.

Isu pergantian pimpinan The Fed memang sedang hangat. Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menyatakan kesediaannya untuk menjabat bila ditunjuk. Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent memberi sinyal bahwa pengumuman nama ketua baru bisa terjadi sebelum Natal tahun ini.

“Kami masih melihat emas dan perak berada dalam tren sideways yang kuat dengan potensi kenaikan,” pungkas Meger.

Minggu ini, fokus investor juga akan tertuju pada rentetan data penting dari AS. Mulai dari laporan ketenagakerjaan ADP untuk bulan November yang dirilis Rabu, hingga Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) untuk September indikator inflasi andalan The Fed yang baru akan terbit pada Jumat setelah sempat tertunda. Belum lagi pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan hari Senin; itu semua bisa memberi petunjuk baru soal arah kebijakan moneter ke depan.

Bagaimana dengan logam mulia lainnya? Tampaknya tak seberuntung emas dan perak. Harga platinum justru turun 0,7 persen ke USD 1.660,69. Palladium pun ikut melemah, dengan penurunan 2,1 persen menjadi USD 1.431,52.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar