Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Senin (1/12) dengan catatan hijau. Mata uang kita menguat 12 poin, atau sekitar 0,07 persen, ke level Rp16.663 per dolar AS. Kenaikan ini sekaligus menandai awal bulan Desember yang cukup optimis.
Dari luar negeri, sentimen penguatan datang dari melemahnya dolar AS itu sendiri. Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang, melihat investor sedang bersiap menyambut bulan yang krusial ini. Mereka menanti pemangkasan suku bunga terakhir The Fed tahun ini, plus konfirmasi pengganti Ketua Jerome Powell yang diyakini berpandangan dovish.
"Namun, fokus utama investor tertuju pada prospek suku bunga AS," ujarnya dalam risetnya, Senin lalu.
Menurut Ibrahim, pasar kini memberi peluang 87 persen The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pekan depan. Ekspektasi pelonggaran yang berubah drastis ini, ditambah kabar bahwa penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett jadi kandidat terdepan pimpinan baru The Fed, jelas menekan dolar. Tak heran, pada Jumat lalu dolar bahkan mencatatkan minggu terburuknya dalam empat bulan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sendiri bilang, besar kemungkinan Presiden Donald Trump akan mengumumkan pilihannya sebelum Natal.
Di sisi lain, sentimen dari dalam negeri juga cukup mendukung. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data yang cukup menggembirakan: neraca perdagangan Indonesia surplus USD2,39 miliar pada Oktober 2025. Dengan capaian ini, Indonesia telah mencatatkan surplus perdagangan secara berturut-turut selama 66 bulan, atau sejak Mei 2020. Sebuah rekor yang patut diapresiasi.
Memang, ekspor Oktober 2025 tercatat USD24,24 miliar, turun 2,31 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Penurunan ini terutama disebabkan oleh anjloknya ekspor migas hingga 33,60 persen. Nilai impor juga turun tipis 1,15 persen menjadi USD21,84 miliar. Namun begitu, surplus Oktober lebih banyak ditopang komoditas nonmigas, yang mencapai USD4,31 miliar. Penyumbang utamanya adalah lemak dan minyak hewani nabati, diikuti bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Berita baik lainnya datang dari sektor manufaktur. Aktivitasnya kembali menunjukkan ekspansi untuk bulan keempat berturut-turut. Indeks PMI manufaktur Indonesia pada November 2025 melonjak ke level 53,3, jauh lebih tinggi dari angka 51,2 di bulan sebelumnya. Pencapaian ini bahkan melampaui ekspansi September yang hanya 50,4, meski masih di bawah level Agustus (51,5).
Perlu diingat, sebelum ekspansi beruntun ini, PMI manufaktur sempat terpuruk. Kontraksi terjadi selama empat bulan, sejak April hingga Juli 2025, dengan titik terendahnya di level 46,7 pada April lalu. Pemulihannya terasa signifikan.
Merangkum semua analisis itu, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah ke depan akan cenderung fluktuatif. Namun, ia melihat potensi untuk ditutup menguat dalam rentang yang cukup ketat, yakni antara Rp16.630 hingga Rp16.670 per dolar AS. Kita lihat saja perkembangannya.
Artikel Terkait
Pembukaan Kembali Selat Hormuz Picu Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok
Astra Graphia Bagikan Dividen Final Rp284,59 Miliar, Melebihi Laba Bersih 2025
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026