Pasar valas kembali diguncang gejolak. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, angkat bicara pada Minggu (30/11/2025) mengenai situasi ini. Menurutnya, fluktuasi liar yang terjadi belakangan, terutama pelemahan tajam yen, sama sekali tidak mencerminkan kondisi fundamental perekonomian.
"Kami punya posisi untuk mengeluarkan peringatan terhadap hal-hal seperti itu," tegas Katayama dalam sebuah acara bincang-bincang di Fuji Television.
Dia tak berhenti di situ. Katayama dengan jelas menegaskan bahwa intervensi di pasar mata uang tetap menjadi opsi yang terbuka. Opsi itu akan dipertimbangkan jika pergerakan yen dinilai sudah keterlaluan fluktuatif dan didorong oleh spekulasi semata.
Pernyataan ini sebenarnya punya landasan. Ia sejalan dengan kesepakatan bersama Jepang dan AS yang dinyatakan pada September lalu, yang intinya menyebutkan nilai tukar seharusnya ditentukan oleh mekanisme pasar. Namun begitu, tampaknya ada batasan yang tak boleh dilampaui.
Menariknya, sepanjang pekan lalu, sentimen pasar justru dipenuhi antisipasi akan intervensi Tokyo untuk menahan laju pelemahan yen. Alih-alih terus melemah, mata uang negeri sakura itu justru menunjukkan stabilitasnya.
Kini, semua mata tertuju pada pidato Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, yang dijadwalkan pada Senin (1/12/2025). Pidatonya akan disorot ketat untuk mencari petunjuk, sekecil apapun, mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga dalam pertemuan bulan Desember nanti.
Keputusan untuk menaikkan suku bunga, jika benar terjadi, tentu akan menjadi angin segar bagi yen. Langkah itu diprediksi akan membantu mengerek nilai tukarnya terhadap dolar AS, memberikan sedikit kelegaan.
Artikel Terkait
Pembukaan Kembali Selat Hormuz Picu Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok
Astra Graphia Bagikan Dividen Final Rp284,59 Miliar, Melebihi Laba Bersih 2025
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026