Duka kembali menyelimuti dunia ketenagakerjaan kita. Beno Prasetio, seorang petugas PPSU, meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di area Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Rabu (15/4). BPJS Ketenagakerjaan pun menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas musibah ini.
Menurut sejumlah saksi, peristiwa itu terjadi saat Beno sedang menjalankan tugasnya. BPJS Ketenagakerjaan baru mengetahui kabar duka ini dari pemberitaan media sehari setelahnya, tepatnya 16 April. Tanpa menunggu lama, mereka langsung bergerak.
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, menegaskan bahwa perlindungan bagi pekerja harus benar-benar terasa, terutama di saat-saat terberat seperti ini. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tapi bentuk empati nyata sekaligus upaya memastikan hak ahli waris tak terhambat.
"Kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya," ujar Saiful dalam keterangannya di Sabtu (18/4/2026).
"Dalam situasi duka seperti ini, BPJS Ketenagakerjaan harus hadir dengan cepat, penuh kepedulian, dan memastikan seluruh hak peserta dapat diterima oleh keluarganya."
Prosesnya berjalan lancar. Koordinasi dengan instansi terkait dilakukan pada 16-17 April untuk verifikasi dan penjaminan. Yang menarik, semua ini dilakukan secara proaktif. Keluarga almarhum bahkan tak perlu repot mengajukan klaim terlebih dahulu.
"Tanpa menunggu pengajuan dari keluarga, kami langsung bergerak," kata Saiful.
"Seluruh proses administrasi diselesaikan dalam satu hari sehingga manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja dapat segera diterima."
Hasilnya, manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) senilai Rp 281 juta berhasil diserahkan kepada Sri Suryani, istri almarhum. Santunan itu diharapkan bisa meringankan beban dan menjadi penopang hidup keluarga yang ditinggalkan.
Namun begitu, ceritanya tak cuma tentang angka. Proses penyerahan dilakukan dengan pendampingan khusus, mengingat Sri Suryani memiliki keterbatasan pendengaran. Layanan diberikan secara inklusif, penuh kesabaran dan kepedulian.
Bagi Saiful, langkah cepat ini adalah cerminan komitmen mereka. Perlindungan, dalam pandangannya, bukan cuma soal nominal yang besar.
"Bagi kami, perlindungan bukan hanya soal besaran manfaat, tetapi juga kecepatan dan kepastian layanan," ucapnya.
"Karena itu kami terus memperkuat layanan proaktif dan one day service agar hak peserta dapat segera terpenuhi."
Ia juga menyempatkan diri mengapresiasi Pemerintah Kota Jakarta Selatan yang telah memberikan perlindungan jaminan sosial bagi para pegawai harian lepas, termasuk petugas PPSU. Peristiwa ini, baginya, adalah pengingat yang keras.
"Risiko kerja dapat terjadi kapan saja," katanya.
"Kami mengajak seluruh pekerja, baik formal maupun informal, untuk memastikan dirinya terlindungi BPJS Ketenagakerjaan. Agar ketika risiko terjadi, pekerja dan keluarganya tidak menghadapi situasi ini sendirian."
Apresiasi datang dari berbagai pihak. Camat Pasar Minggu, Guguk Tri Rahayu, mengaku terkesan dengan respons yang cepat dan tanpa birokasi berbelit.
"Terima kasih kepada BPJS Ketenagakerjaan. Saya juga tidak menyangka prosesnya bisa berjalan begitu cepat tanpa bertele-tele," ungkap Guguk.
"Ini menunjukkan pentingnya perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja. Ketika terjadi kecelakaan kerja, manfaatnya bisa langsung dirasakan."
Di sisi lain, rasa terima kasih yang paling mengharukan tentu datang dari keluarga. Margiyono, mewakili keluarga ahli waris, menyampaikan apresiasinya.
"Kami dari keluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya," pungkasnya.
"Kami tidak menyangka proses klaim bisa berjalan secepat ini, per hari ini santunan juga telah diterima Ibu Suryani. Semoga manfaat yang kami terima dapat dimanfaatkan oleh keluarga dengan sebaik-baiknya."
Sebuah kisah pilu, namun setidaknya diwarnai oleh kepastian dan kecepatan layanan yang memberi sedikit keringan. Di balik angka santunan, ada upaya nyata untuk hadir di tengah duka.
Artikel Terkait
Polres Karo Bongkar Ladang Ganja 75 Batang di Hutan Lindung
Film Horor Gudang Merica Tayang 21 Mei 2026, Kisahkan Jenazah yang Menghilang
Presiden Prabowo Awali Hari dengan Renang Pagi, Lanjutkan Kunjungan Kerja ke Magelang
Menteri Fadli Zon Tegaskan Chattra Borobudur Terbuat dari Perunggu, Bukan Batu