Hasilnya, kerugian bersih WMPP berhasil ditekan. Hingga kuartal III-2025, kerugian menyusut 44 persen menjadi Rp173,6 miliar, dari sebelumnya Rp310,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, untuk memastikan bisnis tetap berjalan, perusahaan punya beberapa jurus. Mereka berencana meningkatkan pemanfaatan fasilitas yang sudah ada, terutama di segmen cattle dan poultry, agar volume penjualan terdongkrak. Tak hanya itu, WMPP juga akan mengumpulkan tambahan modal kerja lewat divestasi aset-aset yang dianggap tidak produktif lagi.
Ada kabar baik lainnya. Perusahaan kini telah memasuki fase pasca-homologasi setelah memperoleh putusan pengesahan Perjanjian Perdamaian dalam proses PKPU pada 8 September 2025. Status ini memberikan angin segar.
"Putusan PKPU ini memberi ruang bagi Perusahaan untuk mengatur kembali arus kasnya sembari mengumpulkan modal kerja dari pertumbuhan Ebitda. Kami juga membuka peluang masuknya investor baru, baik berupa dana tunai maupun fasilitas non-cash, untuk meningkatkan utilisasi dan mendorong pendapatan," tutur Tumiyono lagi.
Jadi, meski masih ada tantangan, langkah WMPP ke depan terlihat lebih terencana. Mereka berusaha bangkit dengan strategi yang lebih fokus.
Artikel Terkait
Telepon Subuh Mentan Amran Gagalkan 133,5 Ton Bawang Bombay Ilegal
Utang Pinjol Tembus Rp94,85 Triliun, Tunggakan Ikut Merangkak Naik
Pinjol Tembus Rp 94,85 Triliun, Gen Z dan Milenial Paling Rentan Gagal Bayar
Trump Panggil Raksasa Minyak, Tawarkan Venezuela dengan Garansi 100 Miliar Dolar