Amran Sulaiman Soroti Ancaman Beras Ilegal terhadap Semangat 115 Juta Petani

- Selasa, 25 November 2025 | 13:48 WIB
Amran Sulaiman Soroti Ancaman Beras Ilegal terhadap Semangat 115 Juta Petani
Pembahasan Beras Ilegal

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman baru-baru ini angkat bicara soal temuan beras ilegal. Menurutnya, dampaknya nggak main-main. Ini soal semangat jutaan petani di Indonesia yang bisa runtuh.

Kasus terbaru yang beredar, ada 40,4 ton beras ilegal yang masuk lewat Batam. Belum lagi 250 ton lainnya yang menyusup lewat Sabang. Tapi bagi Amran, yang jadi sorotan bukan cuma jumlah fisiknya.

"Jadi perlu kami sampaikan, bukan nilai 40 tonnya, tapi yang kita harus jaga adalah semangat petani kita untuk tanam," tegas Amran di kediamannya di Jakarta Selatan, Selasa (25/11).

Ia menambahkan, "Jangan sampai petani kita ada 115 juta orang, 29 juta KK itu demotivasi."

Beras, dalam pandangannya, adalah komoditas paling sensitif di negeri ini. Persoalan utamanya bukan sekadar beras ilegal yang beredar, tapi efek psikologisnya terhadap petani. Mereka bisa kehilangan motivasi untuk kembali ke sawah.

Di sisi lain, pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan sejumlah paket deregulasi untuk meringankan beban petani. Ada 19 regulasi dari presiden, penurunan harga pupuk hingga 20 persen, ditambah lagi volume pupuk bersubsidi yang ditingkatkan. Belum lagi bantuan alat mesin pertanian.

"Ini pertama dalam sejarah pupuk, harga pupuk turun 20 persen. Sehingga petani kita bersemangat tanam," ujar Amran.

Kondisi itu rupanya memacu optimisme. Target swasembada yang semula direncanakan empat tahun, disebutnya bisa tercapai lebih cepat bahkan tahun ini.

Tapi, temuan beras ilegal seperti di Batam dan Sabang berpotensi besar menggoyahkan kondisi itu. Amran bilang, dampak psikologisnya sama saja, entah itu 1 liter atau 1 juta ton beras ilegal.

"Petani kita harus dijaga, itu 100 juta lebih," tuturnya.

Sementara itu, kanal pengaduan "Lapor Pak Amran" kembali ramai. Sudah dua ribuan lebih laporan dari masyarakat yang masuk. Amran berjanji akan mendalami semuanya.

Beberapa laporan bahkan sudah ditindaklanjuti. Mulai dari pungutan liar terkait traktor, lonjakan harga pupuk, sampai kasus pupuk palsu.

"Ada yang mengambil fee untuk traktor, ada harga pupuk naik langsung kita cabut izinnya. Pupuk palsu ada juga. Kami langsung kirim tim ke daerah," ungkapnya.

Jelas, persoalan beras ilegal ini bukan cuma soal angka. Tapi lebih ke bagaimana menjaga semangat mereka yang menghidupi negeri dari sawah dan ladang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar