Ramaphosa Guncang G20: Stop Ekspor Mentah, Saatnya Olah Mineral di Negeri Sendiri!

- Minggu, 23 November 2025 | 03:06 WIB
Ramaphosa Guncang G20: Stop Ekspor Mentah, Saatnya Olah Mineral di Negeri Sendiri!

Johannesburg, Sabtu (22/11) – Di hadapan para pemimpin dunia, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyuarakan hal yang menurutnya krusial. Ia mendorong agar pengolahan mineral kritis, atau hilirisasi, tak lagi sekadar wacana. Bagi Ramaphosa, ini adalah agenda utama yang harus diwujudkan.

“Kami menekankan pentingnya memanfaatkan mineral kritis untuk pertumbuhan inklusif dan pembangunan berkelanjutan melalui pengolahan mineral di tempat ekstraksi,” tegasnya dalam pidato pembukaan KTT G20.

Ia lantas menjelaskan lebih jauh. Menurutnya, negara-negara berkembang selama ini kerap hanya mengekspor bahan mentah. Padahal, nilai tambah yang jauh lebih besar bisa didapat jika mereka mampu mengolahnya sendiri di dalam negeri. Ini bukan cuma soal ekonomi, tapi juga soal kemandirian.

Di sisi lain, Ramaphosa menilai pengelolaan mineral di negara asal bisa menjadi motor penggerak industrialisasi. Lebih dari itu, hal ini akan memperkuat ketahanan ekonomi suatu bangsa. Persoalan ini, katanya, sangat relevan bukan hanya bagi Afrika, tapi juga bagi banyak negara di Global South yang masih bergulat dengan ketimpangan, pengangguran, dan tekanan utang yang mencekik.

Hilirisasi mineral ini rupanya menjadi salah satu dari empat prioritas utama kepresidenan G20 Afrika Selatan tahun ini. Tiga prioritas lainnya tak kalah penting. Ramaphosa memaparkan soal penguatan ketahanan bencana, mencari solusi keberlanjutan utang bagi negara berpendapatan rendah, dan yang tak kalah pelik: pembiayaan untuk transisi energi yang adil. Keberhasilan dalam agenda-agenda inilah yang nantinya akan menentukan nasib negara berkembang. Apakah mereka bisa mencapai pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan, atau justru tertinggal lebih jauh.

Dalam forum tersebut, Afrika Selatan juga membawa suara dan aspirasi dari Global South. Intinya, mereka mendesak adanya kemitraan multilateral yang lebih kuat, terutama untuk membuka akses pendanaan pembangunan. Ramaphosa berargumen, tanpa upaya serius untuk memperbaiki arsitektur keuangan global dan meningkatkan investasi jangka panjang, negara-negara berkembang akan sulit mengejar ketertinggalan.

Sebagai penutup, Ramaphosa mengajak semua pihak untuk memperkuat komitmen kolektif. Di tengah berbagai tantangan global mulai dari ketegangan geopolitik yang memanas hingga ancaman krisis iklim kerja sama internasional adalah kunci. Dan bagi dia, hilirisasi mineral kritis adalah salah satu jalan nyata menuju pertumbuhan yang inklusif serta stabilitas ekonomi global yang lebih terjaga.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar