Gencatan Senjata Iran-AS di Ujung Tanduk, Negosiasi Masih Alot

- Minggu, 19 April 2026 | 14:15 WIB
Gencatan Senjata Iran-AS di Ujung Tanduk, Negosiasi Masih Alot

Hanya tinggal hitungan hari sebelum gencatan senjata sementara berakhir, tapi negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat masih terasa alot. Tidak ada titik terang yang benar-benar jelas.

Gencatan yang diumumkan pekan lalu itu, menurut laporan, akan berakhir pada 22 April nanti. Artinya, waktu yang tersisa benar-benar mepet.

Di sela-sela sebuah forum diplomasi di Antalya, Turki, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh berbicara kepada para wartawan. Suasana yang terpancar dari pernyataannya tidak terlalu optimis.

"Kami sekarang fokus pada penyelesaian kerangka kerja kesepahaman antara kedua belah pihak," ujarnya.

Dia melanjutkan, "Kami tidak ingin memasuki negosiasi atau pertemuan apa pun yang pasti akan gagal dan yang dapat menjadi dalih untuk eskalasi baru."

Pernyataan itu muncul setelah pembicaraan tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, pekan lalu mentok dan gagal menghasilkan kesepakatan. Menurut Khatibzadeh, sampai kerangka kerja disepakati, mustahil untuk menjadwalkan putaran perundingan berikutnya. Ia mengaku sebenarnya sudah ada kemajuan signifikan, namun kemudian terhambat.

"Tapi kemudian pendekatan maksimalis dari pihak lain, yang mencoba menjadikan Iran pengecualian dari hukum internasional, mencegah kita mencapai kesepakatan," katanya lagi.

Komentar itu jelas merujuk pada tuntutan AS terkait program nuklir Iran, di mana Washington mendesak Teheran untuk melepaskan simpanan uranium yang diperkaya. Sebuah tuntutan yang tampaknya ditolak mentah-mentah.

Khatibzadeh bersikukuh dengan nada tegas.

"Saya harus sangat jelas bahwa Iran tidak akan menerima untuk menjadi pengecualian dari hukum internasional. Apa pun yang akan kita lakukan akan berada dalam kerangka peraturan internasional dan hukum internasional," tegasnya.

Jadi, situasinya masih mandek. Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, dunia tentu menunggu apakah kedua pihak bisa menemukan celah kompromi atau justru bersiap untuk babak ketegangan baru.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar