"Saya punya harapan besar. Ingin batik ini jadi warisan buat anak cucu. Saya dulu belajar dari orang tua, sekarang saya ingin nerusin agar keluarga punya usaha yang bisa bertahan lama," tambah Rantiyem dengan semangat. "Berkat PNM, saya jadi yakin bisa meninggalkan warisan usaha batik yang sudah punya izin resmi."
Menurut L. Dodot Patria Ary, Sekretaris Perusahaan PNM, perjalanan Rantiyem adalah bukti nyata. Ia menunjukkan bagaimana semangat perempuan prasejahtera bisa tumbuh ketika diberi ruang, akses, dan pendampingan yang tepat.
"Kami di PNM punya komitmen untuk membuka peluang seluas-luasnya bagi keluarga prasejahtera agar hidup mereka lebih baik. Kami yakin, usaha yang dibangun dengan pendampingan tepat bisa jadi pijakan masa depan. Siapa tahu, usaha batik Bu Rantiyem nantinya benar-benar jadi warisan berharga untuk generasi berikut," ungkap Dodot.
Hingga saat ini, PNM tercatat sudah memberdayakan lebih dari 22 juta perempuan prasejahtera. Mereka tak cuma diberi pembiayaan ultra mikro, tapi juga program pemberdayaan berkelanjutan. Kisah Rantiyem mengajarkan satu hal: pemberdayaan itu bukan cuma urusan modal. Tapi tentang membuka pintu agar mimpi dan warisan terbaik dalam hidup seorang perempuan Indonesia bisa kembali hidup dan bermakna.
Artikel Terkait
Analis Soroti Anomali: Kinerja BCA Gemilang, Harga Saham Justru Anjlok
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025
BEI Resmi Delisting Saham Sritex Mulai 2026, Lo Kheng Hong Tercatat Sebagai Pemegang Saham
Analis Proyeksikan Guncangan Pasar Global, Rupiah Tertekan hingga Level 17.000