Generasi Digital Indonesia: Antara Peluang dan Tantangan di Balik Layar

- Jumat, 30 Januari 2026 | 04:36 WIB
Generasi Digital Indonesia: Antara Peluang dan Tantangan di Balik Layar

Hiburan pun demikian. Musik, film, gim daring, dan konten kreatif lain bisa diakses hanya dengan sentuhan jari. Survei APJII 2025 menyebut, mayoritas pengguna internet di Indonesia aktif main gim daring. Mobile Legends, Free Fire, dan PUBG Mobile adalah yang populer, dengan durasi main rata-rata satu sampai dua jam per hari. Pemainnya didominasi Gen Z dan Milenial.

Di sisi lain, dunia digital membuka peluang besar untuk berkarya. Banyak pelajar dan mahasiswa yang memanfaatkan media sosial untuk bikin konten edukatif, karya seni digital, tulisan, bahkan membangun bisnis. Ini bukti bahwa teknologi bisa jadi sarana produktif, asal dimanfaatkan dengan baik dan bertanggung jawab.

Tapi, penggunaan yang berlebihan tetap bikin masalah. Kecanduan gadget dan media sosial adalah persoalan utamanya. Banyak anak muda yang merasa gelisah kalau tak pegang smartphone atau offline dari internet. Dampaknya? Konsentrasi belajar menurun, kesehatan mental terganggu, interaksi sosial di dunia nyata pun jadi berkurang kualitasnya.

Belum lagi soal hoaks dan informasi yang kebenarannya dipertanyakan. Arus informasi yang begitu cepat seringkali tak diimbangi kemampuan memilah. Tanpa literasi digital yang memadai, generasi muda mudah terpengaruh berita palsu, ujaran kebencian, dan konten negatif yang bisa membentuk pola pikir yang keliru.

Karena itulah, sikap bijak dalam bermedia digital jadi kunci. Literasi digital punya peran besar untuk membekali anak muda agar bisa berpikir kritis, paham etika, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Contoh nyata bisa dilihat dari pelajar yang memanfaatkan media sosial untuk berbagi info edukatif, diskusi sehat, ikut pembelajaran daring, atau asah keterampilan digital.

Pada akhirnya, teknologi diciptakan untuk membantu manusia, bukan menguasainya. Generasi muda harus bisa menempatkannya sebagai alat, bukan pengendali. Dengan sikap yang bijak dan seimbang, arus digital ini bisa jadi peluang emas untuk berkembang, bukan ancaman yang menakutkan.

Intinya, generasi muda dituntut untuk pintar menyikapi semua ini. Gunakan teknologi secara sehat, proporsional, dan produktif. Batasi penggunaan gadget, tingkatkan literasi digital, dan manfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Hanya dengan begitu, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan siap bersaing di era digital ini.


Halaman:

Komentar