Dari Racun hingga Obat: Kisah Pohon Sosis yang Menyimpan Dua Sisi

- Jumat, 30 Januari 2026 | 00:06 WIB
Dari Racun hingga Obat: Kisah Pohon Sosis yang Menyimpan Dua Sisi

Racunnya berasal dari senyawa seperti naphthoquinone. Kalau dimakan mentah, bisa bikin iritasi mulut, sakit perut parah, atau efek pencahar yang kuat. Kontak dengan kulit pun bisa menimbulkan iritasi. Jadi, jelas ini bukan buah untuk dikudap.

Di sisi lain, justru racun inilah yang menjadi awal cerita pemanfaatannya. Selama berabad-abad, masyarakat tradisional Afrika telah mengolah buah, kulit batang, dan akar pohon sosis menjadi obat. Mereka gunakan untuk mengobati malaria, infeksi kulit, dan berbagai peradangan. Pengetahuan lokal ini diwariskan turun-temurun.

Menariknya, ilmu pengetahuan modern kemudian membuktikan kearifan tersebut. Penelitian menemukan bahwa pohon ini kaya akan flavonoid dan senyawa bioaktif lain yang punya sifat antibakteri dan antiradang. Dengan pengolahan yang tepat, racunnya bisa dinetralisir, dan manfaatnya bisa diambil. Tak heran kalau industri farmasi dan kosmetik mulai meliriknya.

Dalam dunia kosmetik, ekstrak buah sosis kini dipakai dalam sabun atau krim perawatan kulit. Kandungan antioksidannya dipercaya bisa menangkal penuaan. Jadi, dari racun menjadi bahan perawatan wajah transformasi yang cukup luar biasa.

Perannya di alam liar juga tak kalah penting. Buah beracun untuk manusia ini justru jadi makanan lezat bagi gajah, babun, atau antelop. Satwa-satwa itu tidak keracunan dan malah membantu menyebarkan bijinya, menjaga keseimbangan ekosistem.

Pada akhirnya, pohon sosis mengajarkan kita sebuah pelajaran sederhana. Sesuatu yang tampak berbahaya di permukaan, belum tentu tak berguna. Dengan pengetahuan dan cara yang benar, racun bisa berubah menjadi obat. Kigelia africana bukan cuma pohon hias biasa; ia adalah simbol dari hubungan rumit nan menarik antara manusia, alam, dan ilmu pengetahuan.


Halaman:

Komentar