Israel baru-baru ini mengklaim telah melancarkan serangan yang menghantam sebuah kompleks di Teheran. Menurut mereka, tempat itu adalah pusat pengembangan program luar angkasa militer Iran. Serangan ini digambarkan sebagai pukulan "signifikan di jantung Teheran," sebuah pernyataan yang tentu saja penuh makna.
Militer Israel, seperti dilaporkan Aljazeera dan The Jerusalem Post pada Senin (16/3/2026), menyebut aksi mereka berdasar pada informasi intelijen yang "tepat." Mereka merasa telah berhasil "membongkar" fasilitas yang dianggap sebagai ancaman. Ancaman itu tidak hanya untuk satelit Israel, tapi juga untuk aset luar angkasa negara-negara lain di orbit bumi.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel memberikan rincian yang lebih gamblang.
"Kompleks tersebut digunakan untuk mengembangkan program luar angkasa militer, termasuk pengembangan satelit 'Chamran-1'. Satelit itu dibangun oleh industri elektronik Kementerian Pertahanan Iran dan diluncurkan ke luar angkasa pada September 2024 oleh Korps Garda Revolusi Islam."
Rupanya, ini bukan serangan pertama dalam kurun waktu singkat. Menurut mereka, serangan terbaru ini menyusul aksi pekan lalu yang menargetkan kompleks penelitian lain milik Organisasi Luar Angkasa Iran, juga di Teheran. Polanya terlihat jelas: mereka sedang fokus mengganggu perkembangan teknologi antariksa Iran.
Seorang pejabat intelijen dari Unit 9900 IDF memberikan penjelasan yang lebih langsung soal motivasi di balik semua ini. Tujuannya sederhana namun ambisius: mempertahankan supremasi Israel di ruang angkasa. Terutama, kata dia, yang berkaitan dengan kemampuan pengawasan lewat satelit. Mereka tampaknya tak ingin ada pesaing di orbit yang bisa mengintip atau mengganggu mata-mata elektronik mereka.
Jadi, konflik yang biasanya kita lihat di darat atau di udara, kini merambah ke arena yang lebih tinggi. Ruang angkasa pun jadi medan pertarungan baru yang sunyi namun mematikan.
Artikel Terkait
Junta Myanmar Pindahkan Aung San Suu Kyi ke Tahanan Rumah Setelah Lima Tahun Ditahan
Kemenpar Dorong Ngarai Sianok Bukittinggi Jadi Warisan Global UNESCO
Maruarar Sirait Targetkan Akad Jual Rusun Subsidi Meikarta Akhir 2026
Banjir di Terowongan Sentul Capai 25 Cm, Sampah Jadi Biang Kerok