“Dari mulai sekarang sampai nanti akhir Juni, mungkin kalau misalnya ada yang belum bisa lakukan itu jadi masih ada hybrid seperti itu,” jelas Dian.
“Tapi nanti akhir Juni itu sudah tidak bisa lagi melakukan registrasi dengan cara yang lama.”
Di sisi lain, ATSI sendiri sepenuhnya mendukung langkah ini. Alasannya jelas: keamanan. Dian menilai, sistem biometrik ini jadi senjata ampuh buat menekan kejahatan digital yang makin marak, seperti penipuan atau scamming lewat telepon seluler.
“Terutama masalah dari sisi keamanan, adanya scamming kemudian adanya penggunaan identitas yang mungkin tidak seharusnya,” paparnya.
“Nah, dengan adanya biometrik ini kita bisa meminimalisir problem-problem tersebut.”
Menurutnya, metode pengenalan wajah ini jauh lebih efektif ketimbang registrasi pakai KTP biasa. Soalnya, data biometrik itu unik dan sulit dipalsukan.
“Karena kan harus sudah kalau biometri kan nggak mungkin ini ya bisa dikloning. Kalau KTP kan masih bisa tuh fotonya diganti atau bagaimana. Tapi kalau biometri kan menggambarkan identitas orang tertentu,” ucap dia.
Itulah sebabnya, seluruh operator seluler di bawah ATSI diklaim sudah siap dengan sistemnya. Mereka sepakat, langkah ini perlu buat masa depan yang lebih aman di dunia digital.
Artikel Terkait
Deepfake hingga Voice Copy: Ancaman Siber Kini Ada di Sisi Anda
Sang Penjaga Sunyi: Kisah Sikatan Belang, Burung Mungil Penanda Kesehatan Hutan
Samsung Siapkan 3.800 Galaxy Z Flip7 Edisi Olimpiade untuk Atlet Milano Cortina
Waspada Gempa, Begini Cara Pasang Alarm di Ponsel Android