VIDA dan Komdigi Luncurkan Kampanye Jangan Asal Klik Antisipasi Lonjakan Penipuan Digital Saat THR

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:30 WIB
VIDA dan Komdigi Luncurkan Kampanye Jangan Asal Klik Antisipasi Lonjakan Penipuan Digital Saat THR

Jakarta ramai. Uang THR mulai mengalir ke rekening, dan bersamaan dengan itu, aktivitas online masyarakat pun melesat. Sayangnya, momen seperti ini ibarat ladang subur bagi para penipu digital. Mereka sudah siap dengan berbagai modus yang makin lama makin sulit dibedakan dari yang asli.

Merespons tren ini, VIDA sebuah perusahaan yang fokus pada identitas digital dan pencegahan penipuan meluncurkan kampanye edukasi. Kampanye bertajuk "Jangan Asal Klik" itu digagas bersama Komdigi. Tujuannya jelas: menyadarkan masyarakat agar lebih waspada terhadap ancaman di dunia maya, terutama saat transaksi online memuncak seperti pada periode pencairan THR.

Tak hanya kampanye, VIDA juga merilis sebuah whitepaper berjudul "VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook." Laporan itu menggarisbawahi sebuah pola: lonjakan penipuan digital kerap terjadi beriringan dengan pencairan dana massal, termasuk THR.

Momentum Jadi Pemicu

Laporan tersebut juga mengungkap pola berulang lain yang disebut "payday pulse". Intinya, risiko penipuan digital cenderung naik setiap bulan di tanggal 25 sampai 28, pas saat orang-orang baru terima gaji. Polanya selalu berulang.

Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi RI, Teguh Afriyadi, menegaskan hal serupa. Menurutnya, tren penipuan digital sangat bergantung pada momentum.

"Setidaknya ada sekitar 1.700 laporan terkait scam setiap hari. Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum, biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan libur sekolah. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa verifikasi kebenarannya," ujar Teguh dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/3/2026).

Data dari CekRekening.id memperkuat gambaran itu. Ternyata, aplikasi pesan dan media sosial jadi jalur favorit para penipu. Dari 2017 hingga Oktober 2025, ada 396.691 laporan terkait rekening bank atau e-wallet yang diduga dipakai untuk penipuan via aplikasi pesan. Sementara, media sosial menyumbang 281.050 laporan.

Kenapa Bisa Tertipu?

Jawabannya seringkali sederhana: terburu-buru. Banyak dari kita langsung merespons pesan atau mengeklik tautan tanpa pikir panjang. Padahal, sedikit jeda untuk memeriksa bisa menghindarkan dari masalah besar.

Kampanye "Jangan Asal Klik" ingin mengajak kita berhenti sejenak. Cek dulu. Apakah pesan ini mencurigakan? Dari siapa asalnya?

Victor Indajang, Chief Operating Officer VIDA, punya pandangan lebih dalam. Ia melihat penipuan digital sekarang sudah berubah. Bukan lagi kerja individu, tapi sudah terorganisir rapi bak sebuah industri.

Karena itu, menurutnya, pertahanan utama harus dimulai dari diri sendiri. Jangan gampang tergiur. Jangan terburu-buru. Biasakan untuk berhenti, cerna informasinya, verifikasi, baru bertindak.

Lalu, Bagaimana Caranya Agar Aman?

VIDA memberikan beberapa kiat praktis untuk membangun kebiasaan digital yang lebih aman, terlebih saat THR cair:

  • Jangan mudah klik tautan dari pengirim tidak dikenal, apalagi yang bikin panik.
  • Ingat, OTP, PIN, atau kode verifikasi itu rahasia. Jangan pernah dibagikan.
  • Hati-hati dengan file APK atau dokumen yang meminta instalasi aplikasi tambahan.
  • Selalu verifikasi ulang permintaan transfer dana, meski katanya dari saudara atau teman dekat.

Victor menekankan, di momen seperti pencairan THR, bahayanya sangat nyata.

"Satu tautan palsu yang terlihat meyakinkan bisa memicu account takeover atau pencurian data dalam hitungan detik. Siapa pun bisa terjerat. ... Kami percaya kesadaran publik adalah fondasi keamanan dan kepercayaan di ekosistem digital. Edukasi perlu dimulai dari diri sendiri dengan memahami tanda-tanda penipuan, menyadari risikonya, dan berpikir dua hingga tiga kali sebelum mengeklik tautan," jelasnya.

Intinya, di tenging euforia THR, tetaplah waspada. Karena para penipu tidak pernah libur.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar