Telkomsel Gelar Festival AI untuk Ribuan Pelajar, Cimahi Jadi Pembuka

- Jumat, 23 Januari 2026 | 11:00 WIB
Telkomsel Gelar Festival AI untuk Ribuan Pelajar, Cimahi Jadi Pembuka

Hari ini, suasana di SMK Negeri 1 Cimahi tampak berbeda. Telkomsel secara resmi membuka gelaran Internet BAIK Festival (IBFEST) Series 10. Tema tahun ini cukup menarik: “Level Up The Future with AI”.

Sejak 2016, program tanggung jawab sosial tahunan ini memang punya misi jelas: membekali anak muda dengan kemampuan digital yang bertanggung jawab. Kali ini, fokusnya adalah kecerdasan buatan. Ribuan pelajar SMA/SMK akan diajak memanfaatkan AI secara kreatif, aman, dan produktif. Semuanya tetap mengacu pada prinsip BAIK singkatan dari Bertanggung jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif.

Setelah Cimahi, festival ini akan berkelana. Jadwal selanjutnya adalah Jambi pada 5 Februari, lalu Pontianak di bulan April, tepatnya tanggal 22. Puncak acara penutup rencananya digelar di Surakarta, 30 April mendatang.

Acaranya sendiri dirancang cukup komprehensif. Ada AI Camp Training dengan tiga jalur kreativitas berbeda: Creativa, Syntech, dan Cyberlite. Selain itu, tersedia AI Workshop yang dikhususkan untuk siswa, guru, bahkan orang tua. Tak ketinggalan, diskusi inspiratif yang menghadirkan praktisi AI dan pegiat literasi digital untuk berbagi pengalaman.

Inisiatif seperti ini sejalan dengan visi pemerintah menuju Indonesia Emas 2045. Di sisi lain, ada juga Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan Anak di Dunia Maya (PP TUNAS) yang ingin dipastikan implementasinya. Intinya, bagaimana generasi muda bisa terlindungi dan tetap berkembang positif di era digital yang serba cepat ini.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Meutya Hafid, memberikan apresiasi. Menurutnya, konsistensi Telkomsel melalui IBFEST patut diapresiasi.

“Pemerintah berharap pelajar tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Ini adalah langkah krusial untuk mencetak inovator yang berdampak positif bagi kemajuan bangsa,” jelas Meutya.

Pendapat serupa disampaikan Direktur Utama Telkomsel, Nugroho. Ia menekankan bahwa dalam IBFEST Series 10 ini, tujuannya adalah memastikan generasi muda tak sekadar ikut tren.

“Kami ingin mereka mampu menggunakan AI sebagai alat yang solutif. AI bukan ancaman, melainkan akselerator kreativitas dan kapabilitas manusia,” ujarnya.

Nugroho menambahkan, semangat ini sejalan dengan inisiatif Telkomsel Jaga Cita untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan aman melalui berbagai solusi lainnya.

Tiga Jalur Belajar, Satu Tujuan

Agar pembelajaran lebih fokus, IBFEST Series 10 membagi peserta ke dalam tiga jalur peminatan. Setiap jalur punya karakteristiknya sendiri.

Pertama, Creativa (Seni Digital). Jalur ini cocok bagi pelajar yang ingin mengeksplorasi seni dengan bantuan AI. Mulai dari pembuatan musik, film pendek, hingga cerita ilustrasi digital.

Kedua, Syntech (Inovasi & Solusi). Fokusnya pada pengembangan solusi praktis untuk masalah sehari-hari. Peserta diajak membuat aplikasi sederhana, mini-games edukatif, atau prototipe produk digital.

Terakhir, Cyberlite (Keamanan Digital). Ini adalah jalur edukasi keamanan siber yang dikemas secara kreatif. Misalnya, membuat konten kampanye tentang bahaya deepfake atau gerakan “Saring Before Sharing”.

Tak Hanya untuk Siswa

Yang menarik, IBFEST tidak hanya menyasar pelajar. Program ini dirancang untuk seluruh ekosistem pendidikan. Ada AI Workshop dengan materi yang disesuaikan peran masing-masing.

Untuk Pelajar, materinya adalah “Generative AI 101 dan Praktik Singkat AI Kreatif”. Tujuannya, agar mereka bisa mengekspresikan ide secara etis.

Untuk Guru, workshop mengangkat tema “AI in Education & Digital Safety”. Ini untuk memperkuat peran guru sebagai mentor digital yang bisa mengintegrasikan AI dalam pengajaran.

Untuk Orang Tua, sesinya bertajuk “Safe & Smart Parenting di Era AI”. Panduan praktis untuk mendampingi anak berinternet dengan aman dan memahami peran AI dalam keseharian.

Rangkaian acara ditutup dengan diskusi inspiratif bertema “AI untuk Masa Depan yang BAIK”. Forum ini juga jadi ruang sosialisasi PP TUNAS, mengingatkan semua pihak akan pentingnya perlindungan di dunia maya.

Catatan Satu Dekade

Memasuki tahun kesepuluh, program Internet BAIK punya catatan yang cukup panjang. Pada seri sebelumnya saja, Series 9, mereka berhasil menjaring lebih dari 10.000 pendaftar dari 124 kota dan kabupaten.

Secara kumulatif? Angkanya lebih besar. Sejak 2016, program ini telah menjangkau lebih dari 41 ribu pelajar di hampir 1.500 sekolah. Mereka juga melibatkan ribuan guru, orang tua, dan komunitas. Yang membanggakan, lebih dari 1.600 agen perubahan dan ribuan konten kreatif digital telah lahir dari sini.

Bagi yang tertarik untuk ikut serta dalam Series 10, informasi lengkap dan pendaftaran bisa diakses melalui situs internetbaik.id.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar