Bayi Pertama Antartika: Kelahiran yang Dirancang untuk Klaim Kedaulatan

- Kamis, 15 Januari 2026 | 10:36 WIB
Bayi Pertama Antartika: Kelahiran yang Dirancang untuk Klaim Kedaulatan

Bayi mana pun yang lahir di Amerika Serikat, misalnya, langsung mendapat paspor. Tapi coba bayangkan jika kelahirannya terjadi di Antartika. Benua es yang tak berpenghuni itu. Apakah si bayi bisa mengklaim diri sebagai orang Antartika, atau malah mendapat kewarganegaraan langka?

Pertanyaan ini ternyata pernah sangat serius diperdebatkan. Di era 1970-an, beberapa negara punya ide yang cukup nekat: menggunakan kelahiran manusia sebagai alat politik. Tujuannya? Memperkuat klaim kedaulatan atas hamparan es di ujung dunia itu.

Memang, sejak abad ke-19, Antartika sudah jadi ajang rebutan. Berbagai negara berlomba menancapkan benderanya di tengah gurun beku. Namun benua ini unik tak ada penduduk aslinya sama sekali, hanya dikelilingi laut ganas dan cuaca yang bisa membunuh. Situasi ini menciptakan kekosongan hukum, sebuah terra nullius yang menggoda.

Pasca Perang Dunia II, dunia akhirnya sepakat membuat aturan main. Traktat Antartika 1959 membekukan semua klaim teritorial dan menetapkan benua itu hanya untuk penelitian damai. Tapi, ya, beberapa negara tetap ngotot. Argentina, Chile, Australia, hingga Inggris masih memasang peta klaim mereka masing-masing.

Nah, Argentina-lah yang kemudian paling getol. Di bawah junta militer Jenderal Videla pada 1976, negara ini mencari cara untuk pamer kekuatan dan pengaruh. Mereka butuh aksi simbolik yang menggema. Dan Antartika, yang letaknya tak jauh dari Argentina, jadi panggung yang sempurna.

Jadilah, akhir 1977, pemerintah Argentina menerbangkan seorang wanita hamil tua bernama Silvia Morello de Palma ke Pangkalan Esperanza. Misi mereka sederhana sekaligus gila: memastikan ada bayi yang lahir di sana.

Misi itu berhasil.

Pada 7 Januari 1978, Silvia melahirkan seorang bayi laki-laki. Namanya Emilio Marcos Palma. Dialah manusia pertama dalam catatan sejarah yang membuka mata di benua Antartika.

Setelah Emilio, ada sepuluh bayi lain yang menyusul. Semuanya anak dari stasiun penelitian Argentina atau Chile. Kelahiran-kelahiran ini jelas punya pesan politik: "Kami ada di sini, dan kami beranak-pinak di sini." Sebuah upaya menunjukkan kehadiran yang "berkelanjutan" di tempat yang sebenarnya bukan untuk ditinggali.

Tapi, menurut hukum internasional, trik itu tidak berlaku. Kelahiran di Antartika tidak serta-merta memberi status kewarganegaraan. Kesebelas bayi itu tetap jadi warga negara Argentina atau Chile, mengikuti orang tua mereka.

Di sisi lain, praktiknya sendiri dianggap berisiko. Menerbangkan ibu hamil ke kondisi ekstrem hanya untuk klaim politik? Banyak yang menggeleng. Akhirnya, pada 1985, program unik ini dihentikan.

Namun begitu, episode aneh ini meninggalkan satu statistik yang tak terduga. Dari semua kelahiran di benua paling tak ramah itu, tidak ada satu pun bayi yang meninggal. Angka kematian bayi nol persen. Secara teknis, itu menjadikan Antartika untuk sekian lama tempat dengan angka kematian bayi terendah di planet Bumi. Sebuah ironi yang manis, di tengah upaya-upaya politik yang keras.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar