Misi itu berhasil.
Pada 7 Januari 1978, Silvia melahirkan seorang bayi laki-laki. Namanya Emilio Marcos Palma. Dialah manusia pertama dalam catatan sejarah yang membuka mata di benua Antartika.
Setelah Emilio, ada sepuluh bayi lain yang menyusul. Semuanya anak dari stasiun penelitian Argentina atau Chile. Kelahiran-kelahiran ini jelas punya pesan politik: "Kami ada di sini, dan kami beranak-pinak di sini." Sebuah upaya menunjukkan kehadiran yang "berkelanjutan" di tempat yang sebenarnya bukan untuk ditinggali.
Tapi, menurut hukum internasional, trik itu tidak berlaku. Kelahiran di Antartika tidak serta-merta memberi status kewarganegaraan. Kesebelas bayi itu tetap jadi warga negara Argentina atau Chile, mengikuti orang tua mereka.
Di sisi lain, praktiknya sendiri dianggap berisiko. Menerbangkan ibu hamil ke kondisi ekstrem hanya untuk klaim politik? Banyak yang menggeleng. Akhirnya, pada 1985, program unik ini dihentikan.
Namun begitu, episode aneh ini meninggalkan satu statistik yang tak terduga. Dari semua kelahiran di benua paling tak ramah itu, tidak ada satu pun bayi yang meninggal. Angka kematian bayi nol persen. Secara teknis, itu menjadikan Antartika untuk sekian lama tempat dengan angka kematian bayi terendah di planet Bumi. Sebuah ironi yang manis, di tengah upaya-upaya politik yang keras.
Artikel Terkait
Blibli Buka Promo Elektronik di Tengah Bulan, Solusi Saat Dompet Tipis
Ujian Kepemimpinan: Berani Tak Populer untuk Selamatkan Sistem Pensiun ASN
Pemerintah India Desak Hentikan Janji Antar 10 Menit, Kurir Quick-Commerce Dapat Perhatian
Telkomsel Pastikan Jaringan Pulih Total, Fokus Kini pada Stabilitas Pascabanjir Aceh-Sumatera