Kalau bicara soal AI di Asia Tenggara, anginnya sudah berubah. Nggak cuma jadi bahan obrolan lagi, tapi sudah masuk tahap yang lebih serius. Laporan terbaru dari Lenovo bahkan menyebut, pertumbuhan agen AI otonom atau yang mereka sebut Agentic AI di kawasan ASEAN melonjak hingga 91% dalam setahun. Angka yang cukup fantastis.
Yang menarik, gelombang adopsi ini ternyata nggak lagi dipimpin oleh perusahaan-perusahaan teknologi murni. Justru industri yang selama ini jadi tulang punggung infrastruktur, seperti telekomunikasi, yang paling agresif mengadopsinya. Sepertinya mereka sudah melihat sesuatu yang nyata di balik semua hype ini.
Data ini muncul dari CIO Playbook 2026, hasil kolaborasi Lenovo dengan IDC. Mereka mewawancarai lebih dari 920 CIO dan direktur IT di kawasan Asia Pasifik untuk mendapatkan gambaran ini.
Fan Ho, Executive Director Lenovo Asia Pasifik, mengamati pergeseran yang cukup signifikan. Setahun lalu, AI masih didominasi perusahaan-perusahaan yang berorientasi teknologi. Kini, panggung utama justru direbut tiga sektor besar.
"Setahun kemudian, tiga industri benar-benar menonjol. Pertama adalah telekomunikasi, kedua kesehatan, dan ketiga pemerintahan,"
Ujarnya dalam acara Lenovo Tech Day 2026 di Jakarta, Selasa lalu.
Menurut Fan Ho, ketiga sektor ini punya kesamaan yang membuat AI cocok diterapkan: infrastruktur fundamental yang kuat, basis pelanggan yang luas, dan tentu saja, tumpukan data yang sangat masif.
"Di sektor inilah Agentic AI bekerja paling baik. AI bukan lagi soal hype... terbukti ROI yang sangat meyakinkan dari investasi Agentic AI,"
tambahnya.
Namun begitu, antusiasme tinggi ini belum sepenuhnya diimbangi kesiapan. Meski minat naik 91%, faktanya hanya 11% perusahaan di ASEAN yang merasa benar-benar siap untuk melakukan scaling besar-besaran. Mayoritas, sekitar 43%, mengaku butuh waktu setidaknya setahun lagi untuk mematangkan fondasi mereka.
Lalu, apa yang menghambat?
Budi Janto, General Manager Lenovo Indonesia, menyoroti tiga tantangan utama berdasarkan pembicaraan dengan para CIO.
"Pertama adalah Responsible AI yang masih kurang. Kedua, keamanan data. Dan ketiga, kualitas data yang buruk. Datanya ada, tapi kualitasnya buruk,"
jelasnya.
Realitanya, 67% organisasi di ASEAN masih berkutat di fase uji coba sistematis. Ke depannya, masa depan AI di kawasan ini kemungkinan besar akan dibangun di atas infrastruktur Hybrid AI perpaduan antara cloud dan pemrosesan di perangkat lokal untuk menjawab isu biaya dan keamanan yang masih jadi ganjalan.
Nuansanya jelas sudah berbeda. Perusahaan-perusahaan kini nggak mau cuma eksperimen. Mereka menuntut dampak yang kasat mata. Ukuran sukses pun bergeser; implementasi AI sekarang harus menunjukkan ROI yang jelas, plus manfaat non-finansial seperti kepuasan pelanggan yang lebih baik atau keputusan bisnis yang lebih cepat.
Tom Butler, VP Lenovo Asia Pacific, menyimpulkan perubahan mindset ini dengan lugas.
"Prioritas bisnis utama kini adalah peningkatan pendapatan dan pertumbuhan laba, karena perusahaan kini telah melewati tahap uji coba dan pilot, lalu mulai fokus pada bagaimana AI benar-benar diterapkan untuk meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan laba,"
katanya.
Jadi, ceritanya bukan lagi tentang "apa itu AI", tapi sudah pada "AI untuk apa". Dan untuk menjawab itu, jalan yang harus ditempuh ternyata masih panjang.
Artikel Terkait
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI