Infrastruktur jaringan Telkomsel di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhirnya pulih total. Kabar baik ini datang setelah banjir besar melanda wilayah tersebut, menguji ketangguhan layanan telekomunikasi. Pemulihan seratus persen ini ditegaskan oleh perusahaan, berkat kolaborasi dengan Satgas DPR RI dan Kementerian lewat program GALAPANA.
Nah, titik akhir dari upaya besar ini adalah Site Ate Payung di Gampong Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Site itu yang terakhir kembali On Air, menandai berakhirnya masa tanggap darurat. Per 11 Januari 2026, tepatnya pukul 14.00 WIB, data menunjukkan 7.648 site yang terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera sudah berfungsi normal lagi. Jaringannya pun disebut punya tingkat ketersediaan yang tinggi.
Namun begitu, pekerjaan belum sepenuhnya usai. Fokus sekarang beralih ke normalisasi. Tujuannya jelas: meningkatkan keandalan dan kualitas jaringan supaya masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan lancar. Langkah ini penting, mengingat masih ada puluhan site yang mengandalkan transmisi satelit dan ratusan lainnya yang rentan padam karena ketergantungan pada pasokan listrik PLN yang belum stabil.
Di Aceh khususnya, seluruh BTS telah dipulihkan. Kestabilan layanannya juga terus membaik, seiring dengan normalnya pasokan listrik di banyak daerah.
Prosesnya sendiri tidak instan. Semua dilakukan bertahap sejak awal bencana, dengan mempertimbangkan keselamatan tim dan kondisi lapangan yang seringkali sulit diakses.
Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, mengungkapkan bahwa pencapaian ini adalah buah kerja keras dan kolaborasi banyak pihak.
"Dengan kembali beroperasinya Site Ate Payung, kami memastikan seluruh site terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah pulih sepenuhnya. Fokus kami selanjutnya adalah menjaga kualitas dan kestabilan layanan agar tetap optimal dan andal dalam mendukung kebutuhan masyarakat,” ujar Nugroho.
Untuk mendukung semua itu, Telkomsel mengerahkan berbagai perangkat. Ada Compact Mobile BTS atau Combat yang ditempatkan di lokasi terdampak dan hunian sementara, plus ratusan genset sebagai cadangan listrik. Semua untuk memastikan koneksi tetap hidup.
Dengan semangat “Bring It 100% Online Back”, pemantauan dan optimalisasi jaringan akan terus berjalan. Upaya ini bukan cuma soal sinyal, tapi juga bagian dari dukungan bagi pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat yang baru saja melewati masa sulit.
Artikel Terkait
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI