Setelah latihan usai, para peserta mengisi kuesioner tentang kondisi mental mereka selama tantangan. Mereka menilai sendiri tingkat kepercayaan diri, perasaan positif, hingga seberapa lucu atau tidaknya situasi yang dialami semua aspek yang berkaitan dengan kondisi mental tanpa hambatan.
Awalnya, peneliti menduga umpatan membuat seseorang masuk ke kondisi mental yang lebih bebas dari kendali sosial. Otak jadi lebih berani ambil risiko dan tak terlalu fokus pada rasa sakit.
“Dengan mengumpat, kita melepaskan batasan sosial dan memberi izin pada diri sendiri untuk mendorong kemampuan lebih jauh,” ujar Stephens.
Hasilnya? Ternyata benar. Peserta yang mengumpat mampu menopang berat tubuh lebih lama dibanding yang hanya mengucapkan kata netral.
Analisis lanjutan menunjukkan, mengumpat meningkatkan rasa percaya diri, membantu masuk ke kondisi flow psikologis, dan mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman. Faktor-faktor itulah yang membuat latihan berat terasa lebih bisa ditoleransi.
“Temuan ini membantu menjelaskan mengapa mengumpat begitu umum dilakukan,” kata Stephens. “Ini adalah alat peningkat performa yang benar-benar netral kalori, bebas obat, murah, dan selalu tersedia ketika kita membutuhkan dorongan ekstra.”
Jadi, meski tak pantas di semua situasi, dalam momen-momen tertentu saat tubuh dan mental benar-benar diuji umpatan bisa jadi senjata kecil yang dampaknya tak main-main.
Artikel Terkait
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI