Nah, fenomena antusiasme ini menarik untuk diamati. Dalam teori komunikasi, ada yang namanya Uses and Gratifications Theory. Teori ini melihat kita, publik, sebagai pihak aktif yang memilih media atau ruang untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Euforia terhadap Planetarium jelas menunjukkan bahwa kebutuhan warga kota bukan cuma hiburan instan belaka. Ada hasrat untuk memenuhi kebutuhan kognitif dan reflektif sesuatu yang sayangnya sering terabaikan dalam perencanaan ruang kota.
Di sisi lain, kisah Planetarium ini juga bercerita banyak tentang wajah pembangunan kota kita. Jujur saja, ruang edukasi informal sering kalah prioritas. Proyek-proyek yang dianggap lebih "ngasih untung" cepat biasanya lebih dapat tempat. Planetarium sempat terbengkalai, bukan karena orang enggak butuh, tapi karena dianggap tidak mendesak.
Itu persoalan utamanya. Kalau ruang sains cuma dihidupkan saat nostalgia publik melanda, ya risikonya jelas: ia akan redup lagi. Tanpa pengelolaan serius, narasi yang diperbarui, dan dukungan kebijakan yang nyata, Planetarium cuma akan jadi simbol seremonial. Sekadar tempat foto-foto, bukan ruang belajar yang benar-benar hidup dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pembukaan kembali Planetarium harusnya jadi pengingat yang keras. Kota yang baik bukan cuma menyediakan ruang untuk konsumsi, tapi juga ruang untuk kontemplasi. Di bawah proyeksi bintang dan planet itulah, kita diajak menyadari satu hal. Kemajuan sebuah kota bukan diukur dari gemerlap hiburannya, tapi dari kemampuannya memberi ruang bagi warganya untuk berpikir, untuk bertanya, dan untuk merasa kagum.
Artikel Terkait
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI
Resident Evil Requiem Catat Rekor, Terjual 6 Juta Kopi dalam Dua Minggu
Pemerintah Larang Anak di Bawah 16 Tahun Buat Akun Media Sosial Mulai 2026