Euforia menyambut pembukaan kembali Planetarium Jakarta memang nyata. Tapi, di balik kegembiraan itu, ada satu pertanyaan yang mengganjal. Kenapa, sih, tempat belajar sains seperti ini baru dianggap penting setelah bertahun-tahun menghilang dari peta kota?
Jakarta tak pernah kekurangan tempat hiburan. Bertahun-tahun, kita dikelilingi mall, wahana digital, dan tempat rekreasi yang rasanya mirip semua. Hiruk-pikuk itu pelan-pelan menggeser ruang seperti Planetarium ke pinggiran. Makanya, saat ia kembali hadir, respons publik bukan cuma soal punya destinasi baru. Ini lebih seperti kerinduan. Kerinduan pada sebuah ruang untuk belajar yang sudah lama absen.
Menurut sejumlah saksi yang sudah berkunjung, pengalamannya beda dari sekadar tontonan biasa.
"Di dalam ruang gelap itu, melihat bintang-bintang terpancar, kita seperti diajak berhenti sejenak. Lupa sejenak pada macet dan rutinitas," ujar seorang pengunjung.
Planetarium menawarkan sesuatu yang lebih dalam: sebuah ajakan untuk merenung. Ia menghadirkan semesta bukan sebagai tontonan, tapi sebagai bahan refleksi. Tentang asal-usul kita, tentang jarak yang tak terbayangkan, dan tentang betapa kecilnya manusia di alam raya.
Nah, fenomena antusiasme ini menarik untuk diamati. Dalam teori komunikasi, ada yang namanya Uses and Gratifications Theory. Teori ini melihat kita, publik, sebagai pihak aktif yang memilih media atau ruang untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Euforia terhadap Planetarium jelas menunjukkan bahwa kebutuhan warga kota bukan cuma hiburan instan belaka. Ada hasrat untuk memenuhi kebutuhan kognitif dan reflektif sesuatu yang sayangnya sering terabaikan dalam perencanaan ruang kota.
Di sisi lain, kisah Planetarium ini juga bercerita banyak tentang wajah pembangunan kota kita. Jujur saja, ruang edukasi informal sering kalah prioritas. Proyek-proyek yang dianggap lebih "ngasih untung" cepat biasanya lebih dapat tempat. Planetarium sempat terbengkalai, bukan karena orang enggak butuh, tapi karena dianggap tidak mendesak.
Itu persoalan utamanya. Kalau ruang sains cuma dihidupkan saat nostalgia publik melanda, ya risikonya jelas: ia akan redup lagi. Tanpa pengelolaan serius, narasi yang diperbarui, dan dukungan kebijakan yang nyata, Planetarium cuma akan jadi simbol seremonial. Sekadar tempat foto-foto, bukan ruang belajar yang benar-benar hidup dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pembukaan kembali Planetarium harusnya jadi pengingat yang keras. Kota yang baik bukan cuma menyediakan ruang untuk konsumsi, tapi juga ruang untuk kontemplasi. Di bawah proyeksi bintang dan planet itulah, kita diajak menyadari satu hal. Kemajuan sebuah kota bukan diukur dari gemerlap hiburannya, tapi dari kemampuannya memberi ruang bagi warganya untuk berpikir, untuk bertanya, dan untuk merasa kagum.
Artikel Terkait
Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah
Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan
Nyanyian Leluhur: Ritme Kuno Indri Madagaskar yang Menggemakan Musik Manusia