MURIANETWORK.COM - Peluncuran delapan buku yang merekam jejak pemikiran dan pengabdian Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra menjadi momentum refleksi penting bagi perjalanan hukum dan ketatanegaraan Indonesia. Acara yang digelar dalam rangka memperingati ulang tahun ke-70 tokoh tersebut dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara dan tokoh masyarakat, menandai kontribusi panjang Yusril dalam dinamika politik dan konstitusi nasional.
Dokumentasi Pemikiran dari Orde Baru hingga Reformasi
Kedelapan buku tersebut menghadirkan potret utuh pergulatan ide dan peran strategis Yusril, menjangkau periode sejak era Orde Baru, bergulirnya Reformasi, hingga menghadapi tantangan demokrasi masa kini. Karya-karya ini tidak sekadar menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga bacaan yang relevan di tengah menguatnya kembali perdebatan publik tentang konstitusi, supremasi hukum, dan masa depan demokrasi Indonesia.
Dalam keterangannya, Sabtu (7/2/26), Bamsoet menyatakan acara peluncuran buku ini merupakan peristiwa intelektual yang signifikan.
"Peluncuran delapan buku ini adalah peristiwa intelektual yang penting bagi bangsa. Kita diajak menelusuri jejak pemikiran dan perjuangan Prof. Yusril Ihza Mahendra secara utuh, jujur, dan apa adanya, dari ruang akademik hingga praktik kenegaraan. Buku-buku ini merekam bagaimana gagasan hukum dan politik diuji oleh zaman, kekuasaan, serta dinamika demokrasi Indonesia," tuturnya.
Konsistensi Nalar Konstitusional di Tengah Gejolak
Bamsoet menilai Yusril sebagai salah satu pemikir hukum tata negara yang konsisten menjaga nalar konstitusional, bahkan ketika dihadapkan pada perubahan politik yang kerap bergejolak. Melalui buku-buku itu, publik dapat menyelami perdebatan mendasar tentang konstitusi, relasi agama dan negara, serta penempatan hak asasi manusia dalam kerangka keindonesiaan yang konkret. Pemikiran-pemikiran tersebut dinilai masih sangat kontekstual, terutama saat wacana amandemen konstitusi dan penguatan kelembagaan negara kembali mengemuka.
Lebih lanjut, Bamsoet menggambarkan sosok Yusril sebagai akademisi yang berani turun ke gelanggang kekuasaan tanpa kehilangan integritas keilmuannya.
"Pak Yusril adalah contoh akademisi yang berani turun ke panggung kekuasaan tanpa meninggalkan integritas keilmuannya. Dalam buku-buku ini terlihat jelas bagaimana prinsip hukum, konstitusi, dan demokrasi terus menjadi pegangan beliau. Bahkan ketika harus berhadapan dengan tekanan politik yang keras dan situasi nasional yang kompleks," ujarnya.
Artikel Terkait
Tagana Sumbawa Dirikan Dapur Umum Usai Kebakaran Landa 31 Rumah
Aksa Mahmud: Pemimpin Mumpuni Butuh Fondasi Pendidikan yang Kokoh
Dubes Saudi di Indonesia Kecam Serangan Iran, Sebut Ancam Stabilitas Kawasan
Dua Striker Manchester United Cedera, Mundur dari Timnas