Dalam percobaan, monyet harus membedakan bentuk dan warna dalam tiga tugas yang saling berkaitan. Tantangannya adalah terus belajar dan menerapkan pelajaran dari tugas sebelumnya. Dan mereka berhasil.
Lego kognitif itu banyak ditemukan di korteks prefrontal, area otak yang terkait dengan fungsi tinggi seperti pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Wilayah inilah yang diduga jadi pusat kelenturan berpikir.
Yang lebih cerdas lagi, otak ternyata bisa "menonaktifkan" blok kognitif yang sedang tidak dipakai. Dengan kata lain, ia menyimpan Lego saraf yang tidak relevan agar fokusnya tidak buyar.
"Saya membayangkannya seperti fungsi dalam program komputer," ujar Buschman. "Sekelompok neuron mungkin bertugas membedakan warna, lalu hasilnya diteruskan ke fungsi lain yang memicu tindakan. Susunan berurutan semacam ini memungkinkan otak menjalankan sebuah tugas dengan rapi."
Penemuan ini membantu kita paham bagaimana makhluk hidup bisa beradaptasi dengan cepat terhadap hal baru, hanya dengan mengandalkan pengetahuan yang sudah dimiliki. Kemampuan dasar ini masih jadi titik lemah AI.
Ke depannya, temuan ini bukan cuma bisa dipakai untuk melatih AI agar lebih adaptif. Potensinya juga besar untuk terapi gangguan neurologis dan psikiatri, khususnya bagi orang yang kesulitan menerapkan skill di situasi berbeda.
Untuk saat ini, "Lego kognitif" tadi membuktikan satu hal: otak kita jauh lebih lentur. Sistem AI masih sering terjebak dalam catastrophic forgetting, lupa total pada tugas lama saat belajar hal baru.
Memang, multitasking bukanlah hal ideal bagi otak. Tapi kemampuan untuk memindahkan pengetahuan dari satu konteks ke konteks lain seringkali jadi jalan pintas yang sangat efektif.
"Jika otak bisa menggunakan ulang representasi kognitif di berbagai tugas, maka ini memungkinkan kita beradaptasi cepat," papar para peneliti. "Baik dengan belajar dari umpan balik, atau sekadar mengingat memori jangka panjang."
Artikel Terkait
Dari Balik Layar: Seorang Penulis Menjawab Skeptisisme dengan Kata sebagai Warisan
Bimbel dan Obsesi PTN: Ketika Pendidikan Hanya Jadi Ajang Strategi Lolos Ujian
Apple Siapkan Skenario Suksesi, John Ternus Disebut Calon Pengganti Tim Cook
Indonesia Bergerak dari Soft Love ke Hard Love dalam Aturan Main AI