Gadget Bakal Melambung, Produsen AI Berebut Stok Memori

- Senin, 15 Desember 2025 | 20:00 WIB
Gadget Bakal Melambung, Produsen AI Berebut Stok Memori

Buat kamu yang lagi ngincer gadget baru, siap-siap aja. Kabarnya, harga barang elektronik kayak HP dan laptop bakal naik gila-gilaan. Penyebab utamanya sederhana tapi bikin pusing: stok memori atau RAM lagi langka banget.

Nah, kelangkaan ini bukan tanpa alasan. Industri elektronik konsumen sekarang harus beradu cepat dengan perusahaan-perusahaan AI yang sedang jaya-jayanya. Mereka sama-sama berebut chip dari pabrikan. Menurut laporan Reuters, produsen chip memory besar macam Samsung dan SK Hynix udah alih fokus. Mereka lebih memprioritaskan produksi chip High-Bandwidth Memory (HBM) yang canggih untuk data center AI, ketimbang chip D-RAM biasa yang dipake di gadget kita.

Alhasil, rantai pasokan jadi kacau balau. Perusahaan sekelas Microsoft dan Google pun dikabarkan ikut berebut untuk mengamankan pasokan. Situasinya memang cukup pelik.

CEO SK Hynix Group, Chey Tae-won, mengaku kewalahan. Stok mereka bahkan katanya sudah habis terjual sampai tahun 2026.

"Belakangan ini, kami menerima permintaan pasokan memori dari begitu banyak perusahaan hingga kami khawatir bagaimana kami bisa memenuhi semuanya. Jika kami gagal memasok mereka, mereka bisa menghadapi situasi di mana mereka tidak bisa menjalankan bisnis sama sekali," ujar Chey.

Dampaknya langsung terasa. Stok memori untuk keperluan konsumen menipis drastis. Data dari TrendForce menunjukkan inventaris pemasok D-RAM anjlok cuma tersisa 2-4 minggu pada Oktober lalu. Itu waktu yang sangat singkat.

Francis Wong dari Realme India bilang, kenaikan biaya memori ini adalah sesuatu yang "belum pernah terjadi sebelumnya sejak era smartphone dimulai".

Ia memperingatkan, kondisi memaksa ini bisa bikin harga ponsel melonjak 20 sampai 30 persen. Mungkin sekitar pertengahan tahun depan.

Jadi, gimana? Masih mau buru-buru beli gadget sekarang, atau lebih baik nunggu dan lihat situasi dulu? Pilihan ada di tangan kamu.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar