Sejarah Pelabuhan Gresik: Pusat Perdagangan Nusantara yang Terlupakan & Kisahnya

- Rabu, 12 November 2025 | 20:06 WIB
Sejarah Pelabuhan Gresik: Pusat Perdagangan Nusantara yang Terlupakan & Kisahnya
Sejarah Pelabuhan Gresik: Pusat Perdagangan Nusantara yang Terlupakan

Mengungkap Sejarah Gemilang Pelabuhan Gresik yang Terlupakan

Sebelum Tanjung Perak muncul, Pelabuhan Gresik telah lebih dulu menjadi pusat perdagangan terpenting di Nusantara. Pelabuhan bersejarah ini menyimpan narasi panjang tentang kejayaan maritim Indonesia yang patut diketahui oleh generasi masa kini.

Pusat Perdagangan Strategis di Masa Lalu

Pada era kolonial, Pelabuhan Gresik berfungsi sebagai hub perdagangan yang sangat vital. Berbagai jenis kapal niaga dari berbagai wilayah berlabuh di sini. Jalan Samanhudi yang sekarang menjadi arteri utama, dulunya merupakan pusat ekonomi yang ramai dengan toko-toko yang melayani segala kebutuhan pelayaran.

Beragam peralatan kapal tersedia lengkap di kawasan ini, mulai dari tali tambang berbagai ukuran, perlengkapan penerangan, komponen teknik, hingga jangkar kapal berukuran besar. Keberadaan pedagang jangkar bahkan melahirkan sebutan khusus seperti "Kaji War Jangkar" bagi para pengusahanya.

Kapal pinisi tradisional mendominasi aktivitas pelabuhan, mengangkut komoditas unggulan seperti kayu, rotan, dan kopra dari berbagai pulau seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Para pedagang kemudian kembali ke daerah asal mereka dengan membawa muatan semen, material bangunan, produk elektronik, dan berbagai kebutuhan rumah tangga.

Destinasi Wisata Alam yang Memesona

Selain sebagai pusat ekonomi, Pelabuhan Gresik juga pernah menjadi destinasi wisata populer pada periode 1970-an hingga 1980-an. Fenomena matahari terbit di ufuk timur laut Gresik menjadi daya tarik utama yang mampu menyaingi keindahan pantai-pantai ternama.

Banyak masyarakat lokal yang secara rutin mengunjungi kawasan pelabuhan usai melaksanakan sholat subuh di Masjid Jami' Alun-alun untuk menyaksikan pemandangan spektakuler ini. Keindahan sunrise di Pelabuhan Gresik seringkali disamakan dengan keindahan alam Bali.

Figur Penting dalam Sejarah Pelabuhan Gresik

Menurut catatan sejarah, Gresik memiliki sistem "pelabuhan kembar" dengan fungsi berbeda. Karang Kiring khusus menangani kegiatan ekspor-impor, sementara Pulau Mengare melayani aktivitas perikanan.

Babak penting sejarah pelabuhan ini dimulai dengan kedatangan Maulana Malik Ibrahim sekitar tahun 1379. Kehadiran pedagang dari berbagai wilayah seperti Gujarat, India, Champa, Tiongkok, dan Eropa menjadikan Gresik sebagai melting pot budaya dan ekonomi yang sangat dinamis.

Berkintegritas tinggi dan berakhlak mulia, Maulana Malik Ibrahim mendapatkan kepercayaan dari Kerajaan Majapahit untuk berdagang sekaligus menyebarkan ajaran Islam. Pada tahun 1394, di usia 49 tahun, ia diangkat menjadi Syahbandar Pelabuhan Gresik dan memindahkan lokasi pelabuhan ke wilayah timur tempat tinggalnya.

Kepemimpinan pelabuhan kemudian diteruskan oleh Raden Ali Murtadho (Raden Santri) yang menjabat pada usia muda sekitar 20 tahun. Ia melakukan relokasi pelabuhan ke wilayah timur makam pendahulunya. Namun, situasi politik di Majapahit sempat menyebabkan kekosongan jabatan syahbandar selama kurang lebih sembilan tahun.

Masa keemasan Pelabuhan Gresik mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan Nyai Ageng Pinatih, putri pedagang dari Palembang. Diangkat pada usia 76 tahun, ia berhasil membawa pelabuhan menuju era kejayaannya. Warisan kepemimpinannya masih dapat dilacak melalui penamaan berbagai lokasi seperti Kampung Sidopekso (pos keamanan), Kampung Kemasan (area penginapan), Kampung Begedongan (gudang penyimpanan), dan Kampung Mangkatan (area persiapan barang).

Transformasi Menuju Kawasan Industri

Kejayaan Pelabuhan Gresik mulai meredup seiring dengan masuknya VOC dan pemerintahan Hindia Belanda. Untuk memusatkan kontrol perdagangan dan memanfaatkan infrastruktur yang lebih modern, VOC memindahkan seluruh aktivitas ekspor-impor ke Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya.

Pelabuhan Gresik kemudian mengalami reklamasi dan bertransformasi menjadi kawasan seperti yang kita lihat sekarang. Saat ini, kawasan pelabuhan telah berubah menjadi area tertutup yang khusus melayani terminal penumpang kapal menuju Pulau Bawean serta kegiatan bongkar muat barang.

Akses masuk ke area pelabuhan dikenakan biaya parkir dan retribusi, dengan pembatasan hanya untuk kepentingan bisnis resmi. Meskipun telah kehilangan fungsi wisatanya, kenangan akan kejayaan masa lalu Pelabuhan Gresik tetap hidup dalam cerita turun-temurun masyarakat setempat.

Warisan sejarah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Gresik, memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya melestarikan memori kolektif bangsa untuk menginspirasi generasi mendatang.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar