Jakarta diguncang lagi. Kali ini, KPK memanggil sejumlah pengusaha rokok untuk dimintai keterangan. Panggilan itu terkait kasus suap di lingkungan Direktorat Jenderal Bea Cukai yang sedang mereka usut. Pemanggilan dilakukan Selasa lalu, 31 Maret 2026.
Dari lima saksi yang dijadwalkan, tiga di antaranya bergerak di bisnis rokok. “Di antara para saksi yang dipanggil hari ini adalah dari pengusaha rokok,” jelas Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo.
Nama-nama mereka pun disebut: Liem Eng Hwie, Rokhmawan, dan Benny Tan. Dua saksi lain adalah Sri Pangestuti alias Tuti dan Eka Wahyu Widiyastuti alias Wiwit, yang berprofesi sebagai wiraswasta. Rencananya, kelimanya akan diperiksa di Gedung Merah Putih KPK. Tapi, soal kehadiran mereka, belum ada kabar pasti sampai berita ini diturunkan.
“Para saksi ini dibutuhkan keterangannya oleh penyidik untuk menjelaskan soal cukai,” tambah Budi, memberi penekanan pada inti pemeriksaan.
Kasus ini ternyata punya kaitan erat dengan maraknya rokok ilegal di pasaran. Sebelumnya, Deputi Penindakan KPK Asep Guntur Rahayu sudah mengisyaratkan hal itu. Dia bilang, suap di Bea Cukai ini memang berdampak pada membanjirnya rokok ilegal.
“Apakah terkait juga dengan rokok ilegal yang saat ini marak? Salah satunya. Benar gitu,” ujar Asep di kantornya, Jumat 27 Februari lalu.
Semua ini berawal dari operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK. Aksi itu berujung pada penetapan tujuh orang sebagai tersangka. Mereka diduga terlibat dalam jaringan suap dan gratifikasi untuk memuluskan importasi barang.
Daftar tersangkanya cukup panjang. Ada Rizal, yang menjabat sebagai Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC hingga Januari 2026. Lalu Sisprian Subiaksono, Orlando Hamonangan, serta tiga orang dari PT Blueray: John Field, Andri, dan Deddy Kurniawan.
Belum lama ini, KPK juga menahan seorang pejabat lagi: Budiman Bayu Prasojo. Dia adalah Kepala Seksi Intelijen Cukai Penindakan dan Penyidikan DJBC. Penahanannya dilakukan pada Jumat, 27 Februari 2026, mempertegas bahwa penyidikan kasus ini masih terus bergulir.
Nampaknya, gelombang pemeriksaan masih akan berlanjut. Panggilan terhadap para pengusaha rokok ini mungkin baru babak awal untuk mengungkap jaringan yang lebih luas.
Artikel Terkait
Ombudsman Dorong Santir dan Pesantren Laporkan Maladministrasi Tanpa Ragu
Penjualan Tiket Pelni Tembus 39.797 Selama Libur Iduladha, Bau-Bau dan Makassar Jadi Rute Favorit
Ekonom: Kebijakan Ekspor SDA Satu Pintu Jangan Sampai Ciptakan Monopoli Birokrasi Baru
Golkar DKI Jakarta Potong 117 Hewan Kurban untuk Iduladha 1447 H, Sebar ke Lima Wilayah