Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir. Sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di wilayah selatan Iran, termasuk kota pelabuhan Sirik, Jask, dan Bandar Abbas yang berada di dekat Selat Hormuz.
Trump mengumumkan penghentian gencatan senjata pada Rabu (8/7/2026) dan menyatakan keengganannya untuk melanjutkan negosiasi dengan Teheran. "Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi, mereka sampah. Anda tahu apa itu sampah? Mereka sampah. Mereka orang-orang sakit," katanya dalam pernyataan yang keras.
Serangan terbaru ini disebut sebagai pembalasan atas pemboman kapal oleh Iran sehari sebelumnya. "Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran. Jika itu terjadi lagi, akan jauh lebih buruk," tulis Trump di media sosial.
Ketegangan antara kedua negara meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa, militer AS memulai operasi besar-besaran terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz. Sehari kemudian, Iran membalas dengan menargetkan situs militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Bentrokan ini merupakan yang terburuk sejak Nota Kesepahaman Islamabad ditandatangani pada 17 Juni. Kesepakatan 14 poin tersebut mencakup gencatan senjata selama 60 hari, jalur aman bagi kapal melalui Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi AS terhadap Iran. Namun, dengan pernyataan Trump yang menyatakan perjanjian itu berakhir, masa depan stabilitas kawasan kini kembali tidak menentu.
Artikel Terkait
Parlemen Eropa Desak Penyelidikan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino
Iran Siapkan Pemakaman Khamenei di Tengah Gelombang Serangan AS
Iran Tuding AS Langgar Kesepakatan Islamabad MoU, Ancaman Militer Kembali Meningkat
AS Lancarkan Serangan Udara ke Kota-Kota Strategis Iran, Satu Petugas Pemadam Tewas