Wakil Ketua MPR Sorot Rendahnya Partisipasi Perempuan di Industri Teknologi, Hambat Daya Saing Bangsa

- Senin, 08 Juni 2026 | 18:20 WIB
Wakil Ketua MPR Sorot Rendahnya Partisipasi Perempuan di Industri Teknologi, Hambat Daya Saing Bangsa

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyoroti rendahnya partisipasi perempuan di industri teknologi tanah air yang dinilai menjadi hambatan serius bagi daya saing dan inovasi bangsa. Kesenjangan gender di sektor sains dan teknologi, menurutnya, bukan sekadar persoalan keadilan, melainkan kepentingan strategis nasional yang membutuhkan penanganan sistematis.

“Kesenjangan gender di sektor Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) bukan semata persoalan keadilan, melainkan kepentingan strategis nasional yang membutuhkan penanganan sistematis,” kata Lestari dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).

Dalam Indonesia Chief Information Officer (CIO) 200 Summit 2026 di Jakarta, terungkap bahwa partisipasi perempuan di industri teknologi Indonesia masih di bawah 20 persen. Sementara itu, perempuan yang menduduki posisi pimpinan tertinggi hanya sekitar delapan persen. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand yang mencapai 42 persen dan Singapura 41 persen.

Data International Labour Organization (ILO) 2024 juga menunjukkan bahwa lulusan STEM perempuan di Indonesia mencapai sekitar 35 persen. Namun, hanya sekitar delapan persen dari mereka yang benar-benar bekerja di sektor tersebut. Artinya, sebagian besar perempuan dengan latar belakang pendidikan STEM tidak berlanjut ke karier di bidang sains dan teknologi.

“Data ini menunjukkan persoalan utamanya bukan pada kemampuan akademik perempuan. Banyak perempuan memiliki prestasi yang sangat baik di bidang sains dan matematika, tetapi mereka masih menghadapi hambatan sosial dan stereotip gender yang membatasi partisipasi mereka,” papar Lestari yang akrab disapa Rerie.

Anggota Komisi X DPR RI itu menjelaskan bahwa hambatan tersebut sering muncul sejak usia dini melalui ekspektasi sosial yang membentuk kepercayaan diri anak perempuan terhadap bidang sains dan teknologi. Tanpa disadari, kondisi ini membuat banyak perempuan tidak melihat STEM sebagai jalur karier yang realistis bagi mereka.

Untuk mengatasi persoalan ini, Lestari mendorong sistem pendidikan mulai dari lingkungan keluarga hingga kebijakan pengembangan sumber daya manusia agar memberi perhatian lebih pada penguatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi.

“Sekolah dan perguruan tinggi perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, memberi ruang bagi perempuan untuk aktif dalam riset, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik,” ucapnya.

Lebih lanjut, Lestari mengatakan pembangunan ekosistem pendidikan yang inklusif akan membuka peluang lebih luas bagi generasi muda perempuan untuk berkontribusi dalam inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Ia menilai kesetaraan perempuan di bidang STEM bukan sekadar isu keadilan sosial, melainkan juga kepentingan strategis bangsa.

“Dengan membuka akses yang lebih luas bagi perempuan di bidang STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing,” pungkasnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags