Para aktivis misi kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) mengungkapkan pengalaman mengerikan selama masa penahanan oleh tentara Israel. Mereka melaporkan berbagai bentuk penyiksaan, mulai dari sengatan listrik, pemukulan, tendangan, hingga pelecehan seksual. Pengakuan ini disampaikan setelah 422 aktivis dari 44 negara dibebaskan pada Kamis (21/5/2026) dan diterbangkan ke Turki untuk dipulangkan ke negara asal masing-masing.
Aktivis asal Belgia, Arno Meyne, menuturkan bahwa sejumlah rekannya menderita luka serius seperti patah tulang dan trauma kepala selama berada di dalam “kapal penjara” milik Israel. Ia bahkan menyebutkan bahwa beberapa aktivis menjadi korban pelecehan seksual. Perlakuan tidak manusiawi ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis.
Dokter asal Australia, Bianca Webb-Pullman, memberikan kesaksian yang lebih gamblang. Ia mengatakan bahwa para aktivis diperlakukan lebih buruk daripada hewan karena dibiarkan kelaparan dan kehausan selama penahanan. “Kami bukan penjahat. Kami diperlakukan lebih buruk daripada hewan. Maksud saya, hewan, Anda masih akan memberinya air,” ujar Webb-Pullman.
Sementara itu, aktivis asal Prancis, Adrien Jouan, menunjukkan memar dan luka di tubuhnya akibat pemukulan yang terjadi di kapal pertama maupun di kapal penjara. “Ya, mereka memukuli saya, tapi juga banyak di bagian belakang, di kapal pertama, di kapal penjara, ketika mereka menjemput kami. Dan itu semacam penyiksaan,” katanya.
Kekerasan yang dialami para aktivis tidak berhenti di atas kapal. Menurut Webb-Pullman, pasukan Israel bersikap agresif sejak awal, bahkan sempat menembaki kapal misi kemanusiaan sebelum akhirnya menahan rombongan. Ia bergabung dengan GSF bersama sejumlah tenaga medis Australia untuk mengirim bantuan kemanusiaan dan medis ke Jalur Gaza.
Proses penyeretan para aktivis dari kapal menuju dermaga juga dilakukan dengan cara yang menyiksa. “Kami ditahan di sana selama lebih dari satu jam, sementara tentara Israel memutar lagu kebangsaan berulang kali dan mereka mengatakan, ‘Selamat Datang di Israel’ seraya bersikap brutal terhadap semua orang,” ujar Webb-Pullman. Ia menambahkan bahwa pemukulan dan tendangan terus berlangsung sepanjang proses di dermaga, sebuah tindakan yang sangat merendahkan martabat.
Di sisi lain, para aktivis mengaku tidak mendapatkan perlakuan layak selama ditahan. Mereka dibiarkan kelaparan dan kehausan, sebuah tindakan yang dinilai sangat tidak manusiawi. Webb-Pullman menekankan bahwa para aktivis datang untuk membantu warga Gaza yang membutuhkan bantuan medis dan kemanusiaan, namun justru diperlakukan secara brutal.
Meskipun banyak aktivis mengalami kekerasan parah, militer Israel disebut tidak memberikan bantuan medis apa pun. “Banyak rekan medis saya mengalami kekerasan parah, dan dipaksa untuk merawat pasien di atas kapal tanpa dukungan medis dari IOF,” ujar Webb-Pullman.
Menariknya, perlakuan keras tersebut tidak dialami secara merata. Adrien Jouan mengungkapkan bahwa tahanan berlatar belakang Arab atau mereka yang tidak tampak seperti orang Eropa kulit putih mengalami perlakuan yang jauh lebih keras. “Beberapa orang Arab, atau beberapa yang tampak bukan orang Eropa kulit putih, dipukuli jauh lebih parah daripada saya, dan disiksa lebih parah,” katanya.
Atas semua perlakuan tersebut, Jouan menegaskan bahwa dirinya akan mengambil tindakan hukum terhadap tentara Israel. “Tidak normal jika mereka dapat melakukan begitu banyak hal ilegal, sehingga kita harus menuntut mereka,” ujarnya. Ia memastikan bahwa seluruh aktivis mengalami kekerasan selama berada di kapal penjara Israel, dan mereka siap menempuh jalur hukum untuk menuntut keadilan.
Artikel Terkait
Koalisi Ormas Islam Laporkan Hercules GRIB Jaya ke Polda Metro atas Dugaan Persekusi dan Intimidasi
MAN IC Serpong Resmi Jadi Madrasah Pertama di Indonesia Terapkan Kurikulum Internasional IB
Trump: Konflik dengan Iran Akan Segera Berakhir
Harga Pangan Melonjak Jelang Akhir Pekan, Bawang Merah dan Cabai Catat Kenaikan Dua Digit