Minggu sore itu, cuaca terasa begitu gerah. Di Bendungan Penarungan, Kabupaten Badung, sekelompok remaja lebih dari 19 orang sedang berkumpul. Di antara mereka, ada IKAAP (14 tahun). Karena merasa kepanasan, remaja laki-laki itu mengajak teman-temannya untuk mencemplungkan diri ke air bendungan.
Namun begitu, beberapa dari temannya merasa was-was. Mereka bukan warga sekitar, jadi tak paham betul kondisi perairan itu. "Renangnya di pinggir aja," begitu kira-kira peringatan yang dilontarkan. Sayangnya, IKAAP tak menggubris. Ia memutuskan untuk berenang ke arah yang lebih dalam.
Tak butuh waktu lama untuk bencana itu terjadi. Tiba-tiba, teman-temannya melihat IKAAP terseret arus. Dia berjuang, tapi arusnya terlalu deras. Dalam sekejap, ia hilang tenggelam.
Panik, teman-temannya berusaha menolong. Tapi upaya itu sia-sia. Airnya begitu kencang. Akhirnya, mereka berteriak minta tolong kepada warga yang berada di sekitar lokasi.
Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, Pejabat Sementara Kasubsipenmas Polres Sihumas Polres Badung, menjelaskan kronologi keesokan harinya.
"Korban terseret arus saat berenang ke tengah bendungan. Dia tidak bisa melawan arus sehingga terseret dan tenggelam, kemudian ditemukan meninggal dunia."
Warga yang mendengar teriakan minta tolong segera berdatangan. Tapi situasinya sulit. Arus air yang deras membuat mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya, pihak kepolisian dan Basarnas Bali dihubungi untuk bantuan.
Operasi evakuasi pun digelar. Setelah berjuang melawan arus, tim Basarnas akhirnya berhasil mengangkat korban dari air. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 18.00 WITA. Semua usaha sudah dilakukan, tapi nyawa IKAAP tak tertolong.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu