Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Pemindo), Kusnan, mengungkapkan bahwa para peternak unggas saat ini berada dalam situasi yang sulit akibat ketidakseimbangan antara biaya produksi yang terus meningkat dan harga jual yang justru tertekan. Kondisi ini membuat usaha peternakan rakyat semakin terdesak dan sulit untuk bertahan.
Kusnan menjelaskan bahwa lonjakan harga input, terutama pakan dan bibit, menjadi penyebab utama meningkatnya harga pokok produksi (HPP) di kalangan peternak. Namun, ironisnya, harga jual ayam dan telur di pasaran tidak mampu mengikuti kenaikan tersebut dan justru mengalami penurunan.
“Di sektor perunggasan, baik ayam petelur maupun ayam pedaging, kenaikan harga input seperti pakan dan bibit membuat HPP ikut naik. Tapi harga jual justru tertekan dan tidak bisa melampaui HPP,” kata Kusnan dalam sebuah kesempatan, Selasa (19/5/2026).
Saat ini, harga ayam potong ukuran dua kilogram berada di kisaran Rp 18.000 per ekor. Bahkan, di sejumlah daerah, harga tersebut tertekan lebih rendah lagi. Sementara itu, harga telur ayam di tingkat kandang juga menunjukkan tren yang sama. Berdasarkan informasi dari anggota Pemindo di Solo, harga telur hanya berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram, jauh di bawah HPP.
“Ini sangat jauh di bawah HPP,” ujarnya.
Menurut Kusnan, situasi ini menunjukkan bahwa peternak unggas sedang menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, biaya produksi melonjak, terutama karena kenaikan harga pakan yang dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku. Di sisi lain, pasar tidak merespons dengan kenaikan harga jual, sehingga margin keuntungan peternak semakin tipis dan bahkan merugi.
“Kenaikan harga pakan terjadi karena meningkatnya harga bahan baku, yang kemudian berdampak pada harga pakan dari pabrikan. Namun, kenaikan tersebut tidak diikuti oleh kenaikan harga jual produk peternakan di pasar,” jelasnya.
Menghadapi kondisi ini, Kusnan berharap pemerintah dapat segera turun tangan memberikan perlindungan. Salah satu langkah yang diusulkan adalah melalui kebijakan penyerapan produk saat harga jatuh. Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimiliki pemerintah sebagai salah satu saluran potensial untuk menyerap produk peternak.
“Ketika harga jatuh, harapannya produk peternak bisa diserap atau dibeli oleh pemerintah. Peternak tidak minta lebih, cukup diserap saja agar stok berkurang dan harga bisa stabil,” kata dia.
Artikel Terkait
Pemerintah Percepat Perjanjian Dagang demi Dorong Ekspor di Tengah Pelemahan Rupiah
Polisi Lumpuhkan Dua Begal Bersenjata Api yang Beraksi di Enam TKP Jakarta Timur dan Bekasi
Militer Israel Tahan Dua WNI Lagi dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza, Total Jadi Tujuh Orang
Kementan Pastikan Stok Beras Nasional Aman Hadapi El Nino, Capai 5,37 Juta Ton