CIREBON – Terminal Harjamukti riuh. Suara mesin bus dan teriakan calo menandai puncak arus mudik Lebaran. Di tengah kerumunan orang yang hendak pulang kampung, ada sosok yang justru menjauh dari rumah. Mereka adalah para sopir bus, yang tugasnya justru mengantarkan orang lain meraih momen berkumpul dengan keluarga.
Pengorbanan itu nyata. Sementara sanak saudara menunggu di kampung, mereka memegang kemudi, menelan ratusan kilometer jalan, dan menunda Lebaran sendiri.
Salah satunya Ahmad Choirul Afifuddin. Sopir asal Surabaya ini mengakui, sudah dua tahun berturut-turut ia tak bisa pulang. “Sudah dua tahun enggak pulang,” ucapnya singkat, ditemui di sela-sela istirahat singkat di Terminal Harjamukti, Jumat (20/3/2026) lalu.
Rutenya panjang: Cirebon-Malang lewat Tol Trans Jawa. Menurut pengamatannya, tahun ini jalanan jauh lebih padat. “Jalanan lebih ramai, macet sekali,” katanya. Ramainya bukan main.
Namun begitu, arus secara umum masih bisa dikatakan lancar. Penerapan sistem satu arah atau one way memang diberlakukan di beberapa titik. Tapi bagi Ahmad, rekayasa lalu lintas itu belum tentu solusi tercepat.
“Lebih lambat, karena di bawah banyak kendaraan lain,” ungkapnya. Maksudnya, meski satu arah, volume kendaraan yang sedemikian tinggi tetap membuat laju bus tak bisa maksimal.
Di balik setir, ia dan rekan-rekan sopir lainnya terus melaju. Mereka adalah pengantar kebahagiaan orang lain, sambil menyimpan rindu untuk keluarga di rumah. Itulah harga yang harus dibayar, demi memastikan setiap pemudik tiba dengan selamat di tujuan.
Artikel Terkait
Raphinha Cedera Hamstring, Brasil Khawatir Kehilangan Pemain Kunci di Piala Dunia 2026
Para Tokoh Nasional Ikuti Latihan Bersama Jelang UI Green Marathon 2026
Pemprov DKI Batalkan Pemindahan Patung Jenderal Sudirman, Tetap Jadi Ikon di Jembatan Donat Dukuh Atas
Faathir/Devin Gagal Juara Usai Kalah Dramatis dari Wakil Korea di Final Macau Open 2026