PSM Makassar Bertahan di Liga 1, Suporter Desak Evaluasi Total Usai Musim Penuh Kekacauan

- Senin, 11 Mei 2026 | 15:00 WIB
PSM Makassar Bertahan di Liga 1, Suporter Desak Evaluasi Total Usai Musim Penuh Kekacauan

Kepastian PSM Makassar tetap berlaga di kasta tertinggi Liga Indonesia musim depan akhirnya menjadi secercah lega bagi publik sepak bola Sulawesi Selatan setelah berbulan-bulan diliputi kecemasan akan degradasi. Tim berjuluk Pasukan Ramang itu memastikan diri aman setelah rival terdekatnya, Persis Solo, dipastikan kalah dalam perhitungan head-to-head jika keduanya finis dengan perolehan poin yang sama. Namun, rasa lega itu tidak serta-merta berubah menjadi perayaan besar.

Musim 2025/2026 justru meninggalkan luka mendalam dan sederet pertanyaan besar bagi klub sebesar PSM. Tim yang baru dua musim lalu mengangkat trofi Liga 1 musim 2022/2023 itu kini harus puas berkutat di papan bawah klasemen. Dengan dua pertandingan tersisa, PSM masih tertahan di peringkat ke-14 dengan koleksi 34 poin sebuah ironi bagi klub yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Indonesia.

Grafik performa PSM sebenarnya menunjukkan penurunan yang cukup jelas dari musim ke musim. Setelah menjadi juara pada 2022/2023, performa tim mulai merosot pada musim berikutnya ketika finis di posisi ke-11 dengan 44 poin. Sempat membaik pada musim 2024/2025 dengan menempati urutan keenam dan meraih 53 poin, musim ini justru menjadi titik kemunduran paling tajam. Alih-alih bersaing di papan atas atau memperebutkan tiket Asia, Pasukan Ramang justru dipaksa berjuang mati-matian untuk sekadar bertahan di kasta tertinggi.

Pengamat sepak bola Sulawesi Selatan, Syamsuddin Umar, menilai kondisi ini seharusnya menjadi alarm besar bagi manajemen klub. Menurutnya, posisi PSM saat ini sama sekali tidak mencerminkan sejarah dan kualitas yang dimiliki klub berjuluk Juku Eja itu.

“PSM itu sejak dulu identik dengan papan atas. Mereka seharusnya bersaing memperebutkan juara, bukan sibuk menghitung peluang lolos dari degradasi,” ujar Coach Syam dalam pernyataan yang telah disunting ulang.

Ucapan itu menggambarkan besarnya ekspektasi yang melekat pada klub kebanggaan masyarakat Makassar tersebut. Musim ini memang terasa kacau sejak awal. PSM dihantam persoalan nonteknis yang terus mengganggu stabilitas tim. Sanksi larangan transfer membuat mereka kesulitan membangun skuad secara maksimal. Beberapa pemain asing anyar bahkan baru bisa dimainkan ketika kompetisi sudah berjalan beberapa pekan.

Masalah tidak berhenti di situ. Pada paruh musim, badai kembali datang. Larangan transfer kembali menghantam, sementara persoalan finansial membuat situasi ruang ganti semakin tidak stabil. Pelatih kepala saat itu, Bernardo Tavares, akhirnya memilih mundur karena persoalan gaji yang tak kunjung terselesaikan. Kepergian Tavares menjadi pukulan telak bagi tim.

Manajemen kemudian menunjuk Tomas Trucha sebagai pengganti. Kehadirannya sempat memunculkan optimisme setelah PSM mencatat tiga kemenangan beruntun. Namun, harapan itu perlahan meredup ketika performa tim kembali inkonsisten. Situasi makin membingungkan ketika Trucha kemudian menghilang dari tim pada fase krusial musim ini. Dalam kondisi penuh tekanan, Ahmad Amiruddin akhirnya maju sebagai pelatih caretaker dan menjadi figur penting dalam perjuangan menyelamatkan PSM dari jurang degradasi.

Di tengah segala keterbatasan, Ahmad Amiruddin perlahan mampu mengembalikan semangat bertarung tim. Kepastian bertahan di Super League memang belum cukup menghapus kekecewaan musim ini, tetapi setidaknya menjadi fondasi penting untuk membangun ulang kekuatan PSM pada musim depan.

Bagi banyak suporter, musim ini menjadi pelajaran bahwa nama besar saja tidak cukup untuk menjaga klub tetap kompetitif. Salah satu pendukung PSM, Sulyadi Abbas, menilai sudah waktunya manajemen melakukan evaluasi menyeluruh. Ia berharap dua laga tersisa tetap diperjuangkan serius demi menutup musim dengan harga diri.

“PSM harus benar-benar berbenah. Semua kekurangan musim ini wajib diperbaiki supaya tim bisa kembali lebih kuat. Dua pertandingan terakhir juga tetap harus diperjuangkan,” katanya dalam kutipan yang telah disunting ulang.

Sebagai anggota Komunitas VIP Utara (KVU), Sulyadi juga menyuarakan harapan besar suporter agar PSM kembali menjadi tim yang agresif dan disegani musim depan. Menurutnya, target PSM seharusnya bukan sekadar bertahan di liga, melainkan kembali bersaing memperebutkan gelar juara dan tiket kompetisi Asia.

“Suporter ingin melihat PSM kembali menjadi penantang juara. Klub sebesar ini harus kembali bertarung di papan atas dan bermain di kompetisi Asia, bukan sibuk menghindari degradasi,” ujarnya.

Harapan itu tentu bukan sesuatu yang berlebihan. PSM tetap memiliki fondasi kuat sebagai salah satu klub dengan sejarah terbesar di Indonesia. Dukungan suporter fanatik, identitas permainan yang khas, hingga tradisi kompetitif menjadi modal penting untuk bangkit. Kini pertanyaannya tinggal satu: apakah manajemen mampu belajar dari musim penuh kekacauan ini?

Musim depan akan menjadi momentum penentuan bagi PSM. Evaluasi terhadap perekrutan pemain asing, stabilitas finansial, hingga arah manajemen harus dilakukan secara serius. Klub tidak lagi bisa mengandalkan romantisme sejarah semata. Menariknya, di tengah performa yang belum stabil, sejumlah pihak masih percaya PSM tetap memiliki potensi memberi kejutan pada dua laga tersisa musim ini, termasuk saat menghadapi Persib Bandung.

Tim berjuluk Maung Bandung itu memang sedang memburu gelar juara, tetapi PSM diyakini bisa menjadi batu sandungan yang berbahaya. Dalam tekanan besar, Pasukan Ramang justru kerap tampil lebih lepas dan sulit ditebak. Dan jika ada satu hal yang masih dimiliki PSM di tengah musim yang berantakan ini, itu adalah harga diri. Sebab bagi klub sebesar PSM Makassar, bertahan di Super League bukanlah akhir perjuangan. Itu baru awal untuk membuktikan bahwa mereka belum habis.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar