Banyak orang membayangkan tasawuf sebagai ritual sunyi: zikir, wirid, dan disiplin batin yang menjauhi keramaian dunia. Tapi coba tengok sejarah Nusantara. Di sini, justru denyut tasawuf terasa paling kuat ketika ia turun ke bumi, menyapa realitas sosial, dan berjumpa dengan budaya. Inilah yang saya sebut living sufisme tasawuf yang hidup, membumi, dan relevan.
Namun begitu, perlu diingat. Pendekatan ini sama sekali tak hendak menggantikan tasawuf klasik. Ia justru melengkapinya. Jika doktrin teologis memberi fondasi dan arah, maka pengalaman empiris-kulturallah yang memberinya napas dan wujud nyata.
Jadi, teks sufi tetap jadi rujukan utama. Hanya saja, maknanya dihidupi lewat praktik sehari-hari yang konkret. Di rumah, di pasar, atau di tengah keramaian kampung. Pergeseran dari teks ke realitas ini bukan pengingkaran, melainkan penjelmaan.
Ambil contoh nilai-nilai seperti ikhlas, zuhud, atau sabar. Mereka tak berhenti sebagai konsep. Ikhlas terlihat dalam semangat gotong royong tanpa pamrih. Zuhud menjelma jadi kesederhanaan hidup di tengah gemerlap konsumsi. Sementara ihsan bisa tampak dari kerja rapi, jujur, dan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai itu hidup.
Di sinilah kearifan lokal Indonesia berperan sebagai medium spiritual yang luar biasa kaya. Seni tradisi musik, tari, sastra lisan bukan cuma hiburan. Ia adalah sarana penghalusan rasa, semacam zikir kolektif. Adat istiadat mengajarkan etika relasi, cara menghormati orang tua, merawat yang lemah. Bahkan budaya kuliner pun menyimpan pelajaran syukur dan kebersamaan. Kerajinan tangan mengajarkan ketekunan dan cinta pada proses nilai-nilai tasawuf yang sering terlupakan.
Artikel Terkait
Polisi Gagalkan Peredaran Sabu 27 Kg dan Ribuan Pil di Tangerang
Tim Advokasi Tuding Laporan Polisi Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis sebagai Bagian dari Strategi Pecah Belah Jokowi
Rp 2 Juta Per Kepala: Skandal Suap Izin TKA di Kemnaker Tembus Rp 135 Miliar
Sidang Isbat Digelar 17 Februari, Awal Ramadan 1447 H Segera Ditetapkan