Tasawuf yang Membumi: Ketika Spiritualitas Berjumpa dengan Kearifan Nusantara

- Kamis, 29 Januari 2026 | 15:48 WIB
Tasawuf yang Membumi: Ketika Spiritualitas Berjumpa dengan Kearifan Nusantara

Menurut sejumlah pengamat, Indonesia dengan segala keragamannya sejatinya adalah laboratorium tasawuf hidup. Spiritualitas di sini tak terasing dari budaya. Agama pun tak berhadap-hadapan dengan kearifan lokal. Justru dari perjumpaan itulah lahir praktik keagamaan yang ramah, inklusif, dan punya daya ubah. Tasawuf jadi energi sosial, bukan pelarian.

Pendekatan ini juga memecah dikotomi palsu antara “agama murni” dan “budaya”. Yang terjadi bukan pencampuradukan sembarangan, melainkan nilai ilahiah yang berinkarnasi dalam konteks lokal. Ortodoksi bertemu kreativitas; kedalaman iman bersua keindahan ekspresi. Dari sini lahir etika keindahan: bahwa yang indah mendorong pada kebaikan, dan yang baik layak dirayakan.

Lebih jauh lagi, tasawuf yang hidup mendorong lompatan dari kesalehan individual menuju kesalehan komunal. Spirit untuk melenyapkan ego dan mengabdi pada kemaslahatan bersama menumbuhkan solidaritas sosial. Ia mendorong ekonomi lokal yang adil dan kepedulian pada lingkungan. Spiritualitas menjadi membebaskan, memanusiakan.

Ke depan, tentu saja, pengembangan gagasan ini butuh keberanian. Dialog lintas disiplin dan tradisi harus digencarkan. Pendidikan keagamaan perlu lebih kontekstual dan partisipatif. Riset harus memberi ruang bagi suara budaya dan pengalaman umat. Dan kebijakan publik semestinya memandang kearifan lokal sebagai aset spiritual bangsa bukan sekadar ornamen.

Pada akhirnya, living sufisme adalah ikhtiar. Sebuah upaya menghidupkan kembali ruh tasawuf di tengah kehidupan modern yang kerap gaduh. Ia mengingatkan kita: jalan menuju Tuhan tak selalu harus sunyi dan jauh. Sering kali, Ia justru dekat. Hangat. Hadir dalam tradisi yang kita jalani sehari-hari.


Halaman:

Komentar