Stasiun Tegal tampak ramai pagi itu, namun bukan hanya oleh calon penumpang. Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, turun langsung melihat persiapan pengelolaan sampah di tengah keriuhan arus mudik. Ia didampingi sejumlah pejabat daerah setempat, memeriksa kesiapan fasilitas dari ujung ke ujung.
Fokusnya jelas: memastikan sampah bisa dikelola dengan baik sejak dari sumbernya. Tahun ini, prediksi peningkatan jumlah pemudik mencapai 20 persen. Angka itu bukan cuma soal kepadatan, tapi juga potensi timbunan sampah yang ikut melonjak. Makanya, menurut Diaz, penanganan dari hulu jadi kunci.
"Kenaikan jumlah pemudik ini pasti berdampak pada produksi sampah, baik di stasiun, terminal, maupun rest area," ujarnya.
Di sisi lain, ada beberapa hal yang dia apresiasi. Keberadaan tempat sampah terpilah, misalnya, disebutnya bisa mempermudah langkah berikutnya. Fasilitas seperti itu membantu memisahkan sampah organik dan anorganik sejak awal.
Selain itu, perhatiannya juga tertuju pada dispenser air minum gratis yang tersedia.
"Ini langkah kecil yang efeknya besar. Dengan minum isi ulang, pemudik bisa mengurangi ketergantungan pada botol plastik sekali pakai," tambah Diaz.
Pemantauan di Stasiun Tegal ini bukan tanpa alasan. Aktivitas mudik yang masif selalu meninggalkan jejak sampah yang signifikan. Tanpa pengelolaan serius, limbah itu bisa membanjiri tempat umum dan mengganggu lingkungan. Upaya preventif, meski terkesan sederhana, dinilai crucial untuk mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi