Perusahaan teknologi layanan internet, Cloudflare, mengumumkan pemangkasan 20 persen dari total jumlah karyawannya. Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi operasional yang kini mulai mengadopsi kecerdasan buatan secara masif.
Berdasarkan laporan yang dikutip pada awal Mei 2026, Cloudflare berencana melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 1.100 karyawan di berbagai negara. Hingga akhir tahun lalu, perusahaan tercatat memiliki 5.156 pekerja tetap.
Dalam pesan yang disampaikan kepada para staf, CEO Cloudflare Matthew Prince dan salah satu pendiri Michelle Zatlyn menjelaskan bahwa perusahaan telah merombak setiap tim dan fungsi internal. Perubahan ini dilakukan agar operasional selaras dengan perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan yang kini berorientasi pada sistem agen.
Pihak perusahaan menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja ini tidak terkait dengan kinerja individu atau tekanan keuangan jangka pendek. Sebaliknya, langkah ini merupakan hasil dari desain ulang proses dan peran di dalam perusahaan.
Cloudflare juga mengungkapkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan dalam operasional meningkat enam kali lipat dalam tiga bulan terakhir. Akibatnya, terjadi perubahan signifikan pada cara kerja tim di seluruh lini.
Di sisi lain, pendapatan perusahaan pada kuartal kedua diperkirakan berada di bawah ekspektasi pasar. Cloudflare memproyeksikan pendapatan kuartal kedua tahun ini berkisar antara 664 juta hingga 665 juta dolar AS. Sementara itu, analis memperkirakan angka tersebut mencapai 665,3 juta dolar AS dengan laba per saham yang disesuaikan sebesar 27 sen, sesuai dengan prediksi sebelumnya.
Perusahaan juga memperkirakan harus mengeluarkan biaya antara 140 juta hingga 150 juta dolar AS terkait pemutusan hubungan kerja ini.
Pada kuartal pertama, Cloudflare mencatat pendapatan sebesar 639,8 juta dolar AS, melampaui perkiraan analis yang hanya 621,09 juta dolar AS. Laba per saham yang disesuaikan mencapai 25 sen, lebih tinggi dari ekspektasi 23 sen.
Cloudflare bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang mengambil langkah serupa. Beberapa perusahaan lain juga mulai gencar memanfaatkan kecerdasan buatan dalam operasional mereka. Goldman Sachs memperkirakan bahwa adopsi teknologi ini dapat menyebabkan 5.000 hingga 10.000 pemutusan hubungan kerja di Amerika Serikat.
Artikel Terkait
Kemenkes Audit Dokter Pendamping Internship di Jambi Buntut Meninggalnya dr Myta Aprilia Azmi
Bulog Sederhanakan Kemasan Beras Bantuan Pangan Akibat Harga Bahan Baku Plastik Naik
Kontribusi Investasi ke Perekonomian Nasional Tembus 32 Persen, Dorong Pertumbuhan Kuartal I 2026 Capai 5,61 Persen
Gubernur Pramono Majukan Jadwal Car Free Day Sudirman-Thamrin Mulai 05.30 WIB per 1 Juni 2026