Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026, didorong oleh menggeliatnya aktivitas ekonomi domestik, mulai dari konsumsi masyarakat hingga kegiatan industri. Angka ini menunjukkan perekonomian nasional tetap bergerak positif di tengah berbagai dinamika global.
Dari sisi produksi, tiga sektor utama menjadi penopang pertumbuhan pada periode Januari hingga Maret 2026, yaitu industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026), menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik menjadi faktor pendorong utama.
“Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik yang meningkat,” kata Amalia.
Industri pengolahan tercatat tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Sektor ini ditopang oleh industri makanan dan minuman, barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, serta kimia, farmasi, dan obat tradisional. Menurut Amalia, pertumbuhan sektor ini utamanya dipicu oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, mencatat pertumbuhan 6,26 persen secara tahunan. Kenaikan ini seiring dengan meningkatnya produksi domestik dan impor, khususnya barang pertanian, barang konsumsi, barang modal, serta bahan baku. Aktivitas belanja masyarakat yang tinggi turut mendorong sektor ini.
Di sisi lain, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan solid sebesar 5,49 persen secara tahunan, didorong oleh meningkatnya aktivitas pembangunan, baik dari pemerintah maupun swasta. Sektor pertanian juga tumbuh stabil pada angka 4,97 persen pada periode yang sama.
BPS mencatat lima sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026. Industri pengolahan menyumbang 19,07 persen, diikuti perdagangan sebesar 13,28 persen, pertanian 12,67 persen, konstruksi 9,81 persen, dan pertambangan 8,69 persen.
Beberapa sektor lain mencatat pertumbuhan tinggi. Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh hingga 13,14 persen, didorong oleh perluasan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta momen libur nasional. Sektor jasa lainnya tumbuh 9,91 persen berkat peningkatan perjalanan wisatawan nusantara dan kunjungan wisatawan mancanegara. Sektor transportasi dan pergudangan juga tumbuh 8,04 persen seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
Dari sisi pengeluaran, Amalia menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), dan konsumsi pemerintah menjadi penyumbang utama pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga didorong oleh mobilitas penduduk, kebijakan pengendalian inflasi, serta berbagai stimulus pemerintah seperti diskon tiket transportasi, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) atau gaji ke-14, dan suku bunga acuan Bank Indonesia yang ditetapkan pada level 4,75 persen.
PMTB tumbuh 5,96 persen, didorong oleh investasi pemerintah dalam pembangunan prioritas nasional serta investasi swasta. Sementara itu, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan impresif sebesar 21,81 persen, seiring realisasi belanja pegawai melalui pembayaran gaji ke-14 serta peningkatan belanja barang dan jasa, terutama untuk program Makan Bergizi Gratis.
Secara regional, BPS mencatat bahwa wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi menempati posisi teratas dengan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen, diikuti Sulawesi 6,95 persen, serta Jawa 5,79 persen.
Artikel Terkait
Pendapatan IMAX Turun 6,5 Persen di Kuartal I 2026, Laba Bersih Anjlok 26 Persen
Komisi Reformasi Polri Serahkan Laporan Rekomendasi Setebal 3.000 Halaman ke Presiden Prabowo
Saksi Ahji Sebut Kerugian Negara Tak Otomatis Jadi Korupsi, Menteri Nadiem Dinilai Tak Layak Dipidana
Rusia Ancam Serang Besar-besaran Kiev Jelang Victory Day, Minta Warga Sipil dan Diplomat Asing Segera Tinggalkan Ibu Kota Ukraina