Jakarta – Target swasembada pangan yang dikebut Presiden Prabowo Subianto mulai menuai sambutan. Bukan cuma dari kalangan pejabat, tapi juga dari para petani di lapangan. Mereka merasa ada angin segar.
Ketua Kelompok Tani Leuit Jajaka, Aditya Pratama Hermon, termasuk yang angkat bicara. Ia mengapresiasi visi besar pemerintah. Menurutnya, fondasi kedaulatan pangan nasional sedang diperkuat, dan itu penting banget.
“Kami melihat adanya instruksi yang jelas dan terukur. Harapan kami, di bawah komando Presiden Prabowo, ego sektoral antar-lembaga dapat dikikis habis,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (27/4/2026).
Ia menambahkan, program seperti optimasi lahan dan cetak sawah rakyat harus benar-benar membuahkan hasil. Bukan cuma wacana di atas kertas.
Visi Strategis di Tengah Krisis Global
Dalam beberapa pidato kenegaraan, Presiden Prabowo kerap menekankan satu hal: swasembada pangan bukan sekadar urusan ekonomi. Ini soal pertahanan negara. Di tengah krisis iklim dan ketegangan geopolitik yang bikin rantai pasok global kacau, langkah ini dinilai sebagai tindakan preventif yang berani.
Aditya juga menyoroti kepemimpinan Prabowo yang membawa energi baru ke birokrasi pertanian. “Semangatnya beda. Ada greget,” katanya.
Analisis Pakar: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Di sisi lain, pakar pertanian dari IPB University, Prof. Dwi Andreas Santosa, memberikan catatan. Ia diwawancarai tim penulis dan menyampaikan pandangannya yang cukup mendalam.
“Semangat Presiden Prabowo untuk berdikari di bidang pangan adalah sinyal positif. Tapi, kunci keberhasilannya terletak pada bagaimana pemerintah menciptakan ekosistem yang berpihak pada petani kecil,” jelasnya.
Prof. Dwi menambahkan, swasembada jangan hanya dikejar lewat perluasan lahan secara masif. “Harus ada pendampingan teknologi. Produktivitas berkelanjutan itu kuncinya,” tegasnya.
Harapan Besar: Swasembada sebagai Legacy Terkuat
Nah, yang menarik, narasi pembangunan pangan di era Prabowo ini diharapkan tidak berhenti di angka statistik. Masyarakat ingin merasakan dampaknya langsung: pangan yang murah dan bergizi di meja makan.
Ada beberapa poin harapan yang mengemuka. Pertama, kemandirian benih dan pupuk. Pemerintah diminta memutus ketergantungan impor sarana produksi pertanian lewat inovasi dalam negeri. Kedua, regenerasi petani. Anak muda harus kembali tertarik ke sektor ini, apalagi dengan mekanisasi dan digitalisasi alias smart farming.
Ketiga, stabilitas harga. Ini yang paling krusial. Petani harus untung, konsumen harus terjangkau. Dua sisi ini harus seimbang.
Menuju Indonesia Emas melalui Kedaulatan Pangan
Kalau semangat Presiden Prabowo ini dikawal ketat oleh semua elemen bangsa, bukan mimpi lagi kalau Indonesia bisa swasembada beberapa komoditas dan mengurangi impor. Potensi lahan kita luas. SDM-nya juga mumpuni. Yang dibutuhkan cuma satu: kemauan politik yang kuat. Dan itu, menurut banyak pihak, sudah terlihat jelas pada sosok Prabowo.
“Kita semua menaruh harapan besar. Jika urusan perut rakyat sudah terjamin secara mandiri, maka langkah Indonesia menuju negara maju akan menjadi jauh lebih ringan. Ini momentum emas bagi sektor pertanian kita,” tutup Aditya.
Simak! Video Pilihan Redaksi:
Redaktur & Reporter : Friederich Batari
Artikel Terkait
Wamendagri Bima Arya Tegaskan Efisiensi Bukan Sekadar Potong Anggaran di Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30
Veda Ega dan Kiandra Ramadhipa Ukir Sejarah di Jerez, Bukti Regenerasi Pembalap Indonesia Makin Nyata
Gempa Magnitudo 2,5 Guncang Kabupaten Semarang, BMKG Rilis Data Berbeda dengan Lokasi Pangandaran
Jumlah Korban Tewas dalam Operasi Militer AS di Pasifik Capai 185 Orang