AHY Resmikan Penanaman Ribuan Pohon di Tol Jogja-Solo untuk Tekan Polusi dan Jaga Lingkungan

- Minggu, 26 April 2026 | 22:15 WIB
AHY Resmikan Penanaman Ribuan Pohon di Tol Jogja-Solo untuk Tekan Polusi dan Jaga Lingkungan

Yogyakarta Di koridor hijau Jalan Tol Solo–Yogyakarta–New Yogyakarta International Airport, segmen Prambanan–Purwomartani, ada pemandangan yang agak berbeda akhir-akhir ini. Bukan cuma aspal dan beton, tapi juga ribuan pohon yang mulai ditanam di sepanjang jalur.

Ini bagian dari Gerakan Nasional Ruang Terbuka Hijau dan Biru (RTHB). Intinya, pembangunan infrastruktur transportasi dipadukan dengan fungsi ekologis. Biar jalan tolnya jadi, lingkungannya juga tetap terjaga.

Acara penanaman itu sendiri dihadiri sejumlah tokoh penting. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, hadir langsung. Ada juga Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, dan Rektor Universitas Gadjah Mada, Ova Emilia.

Dalam sambutannya, AHY sapaan akrab Agus Harimurti menekankan satu hal. Menurut dia, kegiatan semacam ini harus jadi kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bukan sekadar seremonial belaka.

“Infrastruktur dibangun memang untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus dibarengi dengan semangat membangun lingkungan,” ujarnya, Sabtu, 25 April 2026.

Ia melanjutkan, pembangunan fisik saja tidak cukup. “Jadi tidak boleh kita hanya mengedepankan pembangunan fisik serba benda, kemudian kita tidak menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat dan juga tidak menyentuh aspek keberlanjutan lingkungan kita.”

Menurut AHY, inisiatif ini harus terus dikawal. Baik lewat kebijakan sektoral maupun lintas pemerintah pusat dan daerah. “Kolaborasi semacam ini saya rasa kita butuhkan,” tegasnya.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Jasa Marga Tol Jogja–Solo, Rudi Hardiansyah, menjelaskan alasan teknis di balik penanaman pohon. Salah satu tujuannya, kata dia, untuk menekan polusi udara di sepanjang ruas tol. Bukan sembarang pohon, lho. Jenis tanaman dipilih dengan cermat bukan cuma soal kemampuan menyerap polusi, tapi juga mencerminkan karakter lokal. Contohnya, pohon asam jawa.

“Sesuai dengan rencananya, kita akan melakukan pembangunan jalan tol disertai dengan penanaman pohon-pohonnya,” jelas Rudi.

Ia menambahkan, penanaman baru bisa dilakukan di titik-titik yang konstruksinya sudah rampung. “Kebetulan di sini sedikit lagi selesai, sudah 94,8 persen.”

Sampai sekarang, lebih dari 3.500 pohon sudah ditanam di sepanjang ruas tol yang sudah beroperasi. Progres pembangunan segmen Prambanan–Purwomartani sendiri sudah mencapai sekitar 94,5 persen. Lumayan, tinggal sedikit lagi.

Rektor UGM, Ova Emilia, juga angkat bicara. Ia menyatakan kesiapan kampusnya untuk berkolaborasi dalam pengembangan RTHB. Fokusnya, kata dia, pada pemilihan tanaman yang mendukung penyerapan emisi karbon dan menjaga tanaman endemik.

“Misalnya adalah untuk bagaimana pemilihan tanaman-tanaman yang cocok untuk mendukung emisi dan penyerapan karbon itu sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyinggung soal tanaman endemik. “Bagaimana tanaman-tanaman endemik yang harus dipertahankan di suatu daerah. Saya kira ini merupakan suatu potensi yang luar biasa, dan kami siap untuk berkolaborasi.”

Fakultas Kehutanan UGM, menurut Ova, sudah dilibatkan langsung. Mereka membantu menentukan jenis tanaman yang tepat yang bisa menyerap karbon sekaligus menjaga keanekaragaman hayati.

Harapannya, kolaborasi lintas sektor kayak gini bisa memperkuat implementasi Gerakan Nasional Ruang Terbuka Hijau dan Biru di berbagai daerah. Bukan cuma di Jogja, tapi juga di tempat lain.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar