Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, punya pandangan menarik soal Sekolah Rakyat. Menurutnya, ini semacam jembatan emas bukan sembarang jembatan, tapi yang bisa membawa keluarga miskin dan rentan keluar dari jerat kemiskinan. Pernyataan itu ia sampaikan pas menutup acara Pelatihan Manajemen Pembelajaran buat guru dan kepala sekolah, baru-baru ini.
Dalam arahannya, Agus menekankan satu hal: Sekolah Rakyat beda. Bukan cuma tempat ngajar baca tulis atau hitung. Lebih dari itu, sekolah ini dirancang sebagai alat negara yang strategis. Tujuannya? Memutus transmisi kemiskinan dari orang tua ke anak. Gila sih, tapi memang itu misinya.
“Sekolah Rakyat ini berbeda. Kita tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi menjalankan misi besar untuk memutus rantai kemiskinan. Inilah jembatan emas bagi keluarga-keluarga yang selama ini tidak memiliki harapan,” ujar Agus Jabo dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).
Dia lalu ngasih gambaran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) bilang, lebih dari 74 persen keluarga miskin cuma punya pendidikan sampai SD. Itu baru satu sisi. Di sisi lain, masih ada sekitar 4,1 juta anak usia 7–18 tahun atau 7,63 persen yang belum atau udah nggak sekolah lagi. Dari jumlah itu, sekitar 3,79 juta anak benar-benar putus sekolah. Angkanya bikin miris, ya.
Nah, buat jawab tantangan sebesar itu, pemerintah tahun 2026 ini nambah kuota siswa Sekolah Rakyat. Tadinya cuma 15 ribu lebih, sekarang naik jadi 45 ribu siswa. Tapi, menurut Agus, itu masih jauh dari cukup.
“Kita baru bisa menyerap 45.000 anak dari sekitar 4 juta yang belum bersekolah. Ini menjadi motivasi kita bersama untuk terus memperluas jangkauan,” katanya.
Kementerian Sosial juga nggak cuma diam. Mereka bergerak menjemput langsung anak-anak usia sekolah yang nggak sekolah, termasuk di Jakarta. Rencananya, mereka bakal ditempatkan di 10 titik tambahan Sekolah Rakyat. Agus Jabo nambahin, dampak dari sekolah ini nggak cuma buat anaknya, tapi juga buat seluruh keluarga.
“Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah satu anak, tetapi memulihkan harapan satu keluarga. Dari yang sebelumnya tidak punya harapan, kini mereka memiliki masa depan,” tuturnya.
Dia juga nyinggung soal kepala sekolah. Menurutnya, peran mereka krusial. Sistem pendidikan yang kuat dan berkelanjutan itu nggak bisa dibangun tanpa kepemimpinan yang baik di level sekolah. “Kalau sistemnya baik, hasilnya juga akan baik. Kepala sekolah memegang peran penting dalam memastikan semua berjalan optimal,” ujarnya.
Di acara yang sama, ada Yanet Berotabui, perwakilan kepala sekolah dari SRMA 29 Jayapura. Dia cerita kalau pelatihan ini ngasih bekal yang berharga. “Materi yang kami dapatkan akan kami bawa pulang, kami adopsi, dan kami terapkan di sekolah kami masing-masing. Ini menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak kami,” katanya.
Menutup kegiatan, Wamensos Agus Jabo ngajak semua pihak buat kerja bareng. Sekolah Rakyat, kata dia, adalah solusi nyata buat ngentas kemiskinan. “Sekolah Rakyat adalah jembatan emas. Tugas kita memastikan anak-anak dari keluarga miskin bisa menyeberang menuju masa depan yang lebih baik,” kata dia.
Artikel Terkait
Penembakan di White House Correspondents’ Dinner, Pelaku Guru California Diamankan tanpa Korban Luka
Penembakan di Makan Malam Koresponden Gedung Putih, Lokasi yang Sama dengan Percobaan Pembunuhan Reagan 1981
Mahfud MD Bela Saiful Mujani dari Tuduhan Makar: Unsur Menggulingkan Pemerintah Tak Ada
Atalia Praratya: Rekrutmen Sekolah Rakyat Harus Jamin Keberlanjutan Pendidikan Anak Jalanan